Kompleks Griya Asri Blok C bukan Gotham City. Tidak ada gedung pencakar langit, tidak ada penjahat bertopeng kelelawar, dan satu-satunya suara sirene yang pernah terdengar di sana adalah suara Bang Jono, tukang somay, yang kadang iseng meniru suara ambulans buat lucu-lucuan.
Tapi bagi Bambang, dua puluh sembilan tahun, pengangguran, mantan pegawai magang di toko HP yang di-PHK karena “efisiensi”, kompleks ini adalah kota kejahatan yang menunggu diselamatkan.
Semua bermula tiga bulan lalu, ketika Bambang menghabiskan seluruh kuota internetnya untuk maraton serial detektif dari luar negeri—yang jujur saja, dia tidak terlalu paham dialognya karena subtitle-nya suka telat, tapi dari situ dia menyerap satu hal penting: seorang detektif sejati tidak butuh badge resmi. Cukup insting, kaca pembesar, dan jaket panjang yang bikin dia terlihat misterius.
Maka lahirlah “Detektif Swasta Kompleks: Bambang, S.Pd (Sarjana Pengangguran Distinguished)”—gelar yang ia buat sendiri di kartu nama hasil print warnet, lengkap dengan logo kaca pembesar yang dia gambar pakai Paint.
Kasus pertamanya adalah menyelidiki siapa yang buang sampah sembarangan di depan pos ronda. Setelah investigasi selama dua minggu, tersangka utamanya ternyata angin. Kasus ditutup tanpa penangkapan.
Kasus kedua: siapa yang parkir motor miring sampai menghalangi got. Setelah “penyelidikan mendalam”, ternyata itu motor Bambang sendiri.
Reputasinya, dengan kata lain, belum terlalu cemerlang.
Sampai suatu pagi, datanglah kasus yang akan mengubah segalanya—kasus yang, dalam kepala Bambang, sudah otomatis diberi judul dramatis: “Misteri Sultan yang Hilang.”
Bu RT—istri Pak RT, yang otoritasnya di kompleks kadang lebih besar dari suaminya sendiri—berdiri di depan gerbang komplek dengan wajah panik, memegang mangkuk berisi ikan asin yang sudah dingin.
“SULTAN HILANG!” teriaknya, cukup keras hingga tiga ekor burung dara di atap tetangga terbang ketakutan.
Sultan adalah kucing oyen kesayangan Bu RT—gemuk, malas, dan punya kebiasaan tidur di tempat-tempat yang tidak masuk akal: di atas motor, di dalam kardus indomie, sekali bahkan di dalam helm Pak RT yang untungnya baru ketahuan sebelum dipakai.
Bambang, yang kebetulan lewat sambil bawa gorengan, langsung menghentikan langkahnya. Insting detektifnya—atau yang dia yakini sebagai insting detektif—langsung menyala.
“Bu, tenang,” katanya, meletakkan gorengan di saku jaket parkanya (yang, meski sekarang jam sembilan pagi dan matahari sudah menyengat, tetap dia pakai demi estetika). “Ceritakan semuanya dari awal. Jangan ada yang disembunyikan.”
Bu RT, yang sebenarnya cuma butuh bantuan cari kucing, bukan interogasi kriminal, tetap saja terbawa suasana. “Tadi pagi Sultan masih ada di teras, Mbang. Terus pas saya mau kasih makan, eh udah gak ada.”
Bambang mengeluarkan kaca pembesar mainan dari sakunya—barang belanja online seharga lima belas ribu yang aslinya untuk anak-anak main dokter-dokteran—dan mulai memeriksa lantai teras dengan gaya yang, menurutnya, sangat profesional.
“Ada jejak,” katanya serius, padahal yang dia lihat cuma bekas sandal jepitnya sendiri dari kemarin.
“TKP harus disegel,” lanjutnya. “Bu, tolong jangan ada yang masuk teras dulu.”
Bu RT mengangguk, meski dalam hati bertanya-tanya kenapa urusan kucing hilang jadi seserius adegan pembunuhan.
Petunjuk Pertama: Tukang Bakso
Bambang mulai berpatroli keliling kompleks dengan gaya jalan miring khas detektif film noir—satu tangan di saku, satu tangan memegang kaca pembesar, mata menyipit ke segala arah seolah setiap orang adalah tersangka.
Ia berhenti di gerobak bakso Bang Karto, yang kebetulan sedang mengaduk kuah sambil sesekali memukul mangkuk dengan sendok—ting, ting, ting—kebiasaan yang sudah dia lakukan bertahun-tahun sebagai “panggilan” ke pelanggan.
Bambang menyipitkan mata. Otaknya, yang sudah terkontaminasi tiga bulan nonton serial kriminal, langsung menyambungkan titik-titik yang sebenarnya tidak nyambung.
Ting-ting itu… kode morse?
Ia mendekat perlahan, berpura-pura mau beli bakso, padahal uangnya cuma cukup buat satu mangkuk kecil tanpa bakso—cuma kuah dan mi.
“Bang,” bisik Bambang, “situ tau soal Sultan?”
Bang Karto, bingung, menjawab, “Sultan? Presiden bakso? Gak kenal, Mbang.”
“Kucing oyen. Punya Bu RT.”
“Oh kucing. Nggak tau saya. Emang kenapa?”
Bambang menyipitkan mata lebih dalam lagi, hampir seperti orang kelilipan. “Bunyi ‘ting-ting’ situ itu… mencurigakan.”
Bang Karto menghentikan aktivitas mengaduk kuahnya. “Ini panggilan bakso, Mbang. Dari saya SMP jualan udah gini.”
“Tapi polanya beda-beda tiap hari,” Bambang ngotot, mencatat sesuatu di buku kecil yang isinya sebenarnya cuma coretan tidak jelas. “Tiga ting pendek, dua ting panjang. Itu bisa kode.”
“Itu karena kadang saya capek, Mbang, jadi mukulnya beda-beda,” jawab Bang Karto, mulai risih.
Bambang mengangguk-angguk, seolah baru saja mendapat petunjuk penting, padahal ia cuma dapat penolakan sopan dari tukang bakso yang mulai menyesal kenapa gerobaknya diparkir di dekat rumah Bu RT hari itu.
Ia pergi dengan langkah mantap, meninggalkan Bang Karto yang menggumam pelan, “Anak itu kebanyakan nonton NCIS.”
Petunjuk Kedua: Pak Satpam
Target berikutnya: Pak Yudi, satpam kompleks yang biasa duduk di pos dekat gerbang sambil dengar radio dangdut dan sesekali menyapa warga lewat.
Bambang mendekat dengan gaya menyelidik, matanya melirik ke kotak kardus di samping pos yang isinya, sebenarnya, cuma persediaan pakan kucing liar yang biasa dikasih Pak Yudi ke kucing-kucing sekitar kompleks—niat baik yang, sayangnya, di mata Bambang, terlihat seperti gudang penyimpanan barang bukti.
“Pak,” kata Bambang, berbisik meski tidak ada orang lain di sekitar situ, “saya tau Bapak simpan pakan kucing di situ.”
Pak Yudi, santai, menjawab, “Iya, buat kucing-kucing liar sini, Mbang. Kasian kalo gak dikasih makan.”
“Kebetulan sekali,” Bambang menyipit, “hari ini kucing oyen Bu RT juga hilang.”
Pak Yudi mengangkat alis. “Terus?”
“Bapak kenal siapa aja yang suka ambil kucing buat dijual?”
“Dijual? Mbang, ini kucing kampung, bukan kucing anggora. Gak ada yang mau beli.”
Tapi Bambang sudah terlanjur membangun teori besar di kepalanya: jaringan mafia pakan kucing, lengkap dengan struktur organisasi yang, meski tidak masuk akal, tetap dia gambar di buku catatannya—Pak Yudi sebagai “otak lapangan”, tukang bakso sebagai “komunikasi sandi”, dan seekor kucing liar bernama Mpret yang suka nongkrong di pos satpam sebagai “informan ganda”.
“Pak,” kata Bambang serius, “saya sarankan Bapak kooperatif sebelum saya laporkan ke pihak berwajib.”
Pak Yudi, yang sebenarnya cuma pengin dengar lanjutan lagu dangdut di radio, menghela napas panjang. “Mbang, udah, pulang aja. Kucingnya paling ketiduran di mana gitu.”
Kalimat itu, ironisnya, adalah petunjuk paling akurat yang Bambang dengar sepanjang hari—tapi karena disampaikan bukan dengan gaya dramatis ala film detektif, Bambang mengabaikannya begitu saja.
Klimaks: TKP yang Sebenarnya
Sore harinya, setelah investigasi yang menghasilkan nol bukti dan dua warga yang mulai kesal, Bambang memutuskan untuk melakukan “pengintaian malam”—meski masih jam lima sore dan matahari belum sepenuhnya terbenam.
Ia bersembunyi di balik pagar rumah Bu RT, mengintip lewat celah, mengamati halaman belakang tempat biasanya jemuran digantung. Dalam kepalanya, ia sedang membangun teori baru: mungkin penculik akan kembali ke TKP.
Yang ia tidak sadari, di dalam rumah, Bu RT sedang bersiap mencuci baju sore itu. Ia membuka pintu mesin cuci yang sejak pagi memang tidak dipakai—dan dari dalamnya, keluar suara “meong” yang serak, disusul seekor kucing oyen gemuk yang meregangkan badan dengan santai, seolah baru bangun dari tidur siang paling nyaman sepanjang hidupnya.
Sultan. Ternyata sejak pagi, ia masuk ke dalam mesin cuci lewat pintu yang lupa ditutup, lalu tidur nyenyak di dalamnya sepanjang hari—tidak diculik, tidak dijual ke mafia mana pun, hanya sedang menikmati privasi di ruang berbentuk drum yang, entah kenapa, menurut kucing itu sangat nyaman.
“SULTAN!” Bu RT berteriak girang, memeluk kucingnya yang bau deterjen.
Di luar, Bambang yang masih mengintip dari balik pagar, melihat gerakan mencurigakan di jemuran sebelah—sehelai sarung yang bergoyang tertiup angin. Dalam benaknya yang sudah terlalu larut dalam skenario detektif, sarung bergoyang itu diterjemahkan sebagai “seseorang sedang bersembunyi di balik jemuran, mencoba kabur.”
“BERHENTI!” teriak Bambang, melompat dari balik pagar dengan gaya seolah ia baru saja menangkap basah seorang buronan kelas kakap.
Sayangnya, ia melompat terlalu bersemangat, tersandung selang air yang tergeletak di halaman, dan menabrak tiang jemuran—yang langsung ambruk, menumpahkan seember air bekas kucekan cucian tepat ke atas kepalanya.
“MALING JEMURAN!” teriak Bu Ratih, tetangga sebelah, yang kebetulan melihat kejadian itu dari balkon dan langsung salah paham, mengira Bambang sedang mencuri pakaian yang dijemur.
Dalam hitungan detik, tiga ibu-ibu kompleks keluar rumah masing-masing sambil membawa apa saja yang ada di tangan—sapu, gayung, bahkan satu orang membawa spatula—siap menghajar “maling” yang basah kuyup dan terduduk lemas di antara reruntuhan tiang jemuran.
“BUKAN, BU! SAYA DETEKTIF!” teriak Bambang, sambil menunjukkan kartu nama hasil print warnetnya yang sudah basah dan tintanya mulai luntur, membuat tulisan “Detektif Swasta Kompleks” berubah jadi noda biru yang tidak terbaca.
Untung saja Bu RT, yang mendengar keributan, keluar rumah sambil menggendong Sultan dan langsung menjelaskan situasi sebenarnya sebelum Bambang benar-benar babak belur oleh gayung.
“Udah, udah, ini Bambang, detektif kompleks. Kucing saya ketemu, dia lagi nyari petunjuk,” kata Bu RT, meski nadanya lebih terdengar seperti menahan tawa daripada membela.
Epilog
Malam itu, Bambang pulang dengan jaket parka basah kuyup, bau deterjen bercampur air comberan jemuran, dan reputasi detektif yang, alih-alih naik, justru anjlok drastis satu tingkat lebih rendah dari sebelumnya.
Kasus resmi ditutup dengan laporan akhir yang ia tulis sendiri di buku catatan lusuhnya:
“KASUS DITUTUP. TERSANGKA: MESIN CUCI. MOTIF: KENYAMANAN. KORBAN JIWA: NIHIL. KORBAN HARGA DIRI: DETEKTIF SENDIRI.”
Keesokan harinya, warga kompleks mulai memanggil Bambang dengan julukan baru—bukan lagi “Detektif Swasta Kompleks”, melainkan “Detektif Beras Raskin”, karena menurut Bu Ratih, “kerjanya banyak, hasilnya tipis, kayak jatah raskin.”
Bambang, anehnya, tidak tersinggung. Ia malah mengganti kartu namanya, menambahkan julukan itu di bawah gelarnya, lengkap dengan logo kaca pembesar yang sekarang digambar sedikit lebih miring karena ia menggambarnya sambil masih basah kuyup semalam.
Dan Sultan, sang kucing oyen yang jadi pusat seluruh kekacauan ini, sama sekali tidak peduli. Ia kembali tidur di tempat favoritnya yang baru: di dalam mesin cuci, dengan pintu yang sekarang sengaja tidak ditutup rapat oleh Bu RT, khusus untuk sang kucing.
Kasus mungkin sudah ditutup. Tapi bagi Bambang, kompleks Griya Asri Blok C masih menyimpan banyak misteri lain yang menunggu untuk dipecahkan—dan yang paling dekat, menurutnya, adalah soal siapa yang sering mencuri sandal jepit di depan musala.
Penyelidikan berlanjut.
Tamat.
