Jam di layar laptop Arga menunjukkan pukul sepuluh malam ketika ponselnya bergetar untuk ketiga kalinya. Nama “Ibu” muncul di layar, diiringi foto profil seadanya: bunga kertas merah muda yang tumbuh di pot depan rumah.
Arga menatap layar itu sebentar, lalu menekan tombol tolak. Presentasi untuk klien besok pagi belum selesai, dan kepalanya sudah terlalu penuh untuk mendengar cerita tentang ayam yang baru bertelur atau tetangga yang baru pindah. Lima menit kemudian, sebuah pesan masuk.
“Halo Nak, cuma mau kasih tahu, bunga kertas di depan rumah lagi bagus-bagusnya mekar. Ibu foto buat kamu.”
Di bawahnya, sebuah foto bunga kertas merah muda dengan cahaya sore yang hangat menyinari kelopaknya. Arga membalasnya dengan emoji jempol, lalu kembali menekuni layar laptopnya.
Begitulah pola yang berulang selama bertahun-tahun terakhir. Ibunya menelepon, Arga menjawab dengan alasan sibuk. Ibunya mengirim foto—kadang bunga, kadang hujan yang turun deras di atap seng, kadang ayam-ayam peliharaan yang berkeliaran di halaman—dan Arga membalas dengan emoji seadanya, seolah itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ia masih peduli.
“Nanti kalau sudah mapan, aku pulang lebih lama,” begitu selalu ia yakinkan diri sendiri. Tapi kata “nanti” itu punya cara aneh untuk terus mundur, seperti fatamorgana yang tak pernah benar-benar didekati.
Arga bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta, di divisi yang menuntutnya lembur hampir setiap hari. Sejak lulus kuliah sepuluh tahun lalu, ia pulang ke kampung halaman di Jawa Tengah paling banyak dua kali setahun—Lebaran, dan kadang-kadang libur akhir tahun jika pekerjaan mengizinkan. Setiap kali pulang, ia selalu terburu-buru. Dua atau tiga hari, lalu kembali ke Jakarta dengan alasan “banyak kerjaan menumpuk.”
Ibunya tidak pernah mengeluh. Justru itulah yang membuat Arga semakin nyaman dengan kesibukannya—karena tidak ada yang menegurnya, tidak ada yang memaksanya untuk berhenti sejenak dan menengok ke belakang.
Panggilan itu datang pada suatu Selasa pagi yang basah oleh hujan. Bukan dari ibunya, melainkan dari Bu Painah, tetangga sebelah rumah.
“Arga, Ibu kamu jatuh di kamar mandi. Sekarang di puskesmas, katanya mau dirujuk ke rumah sakit kota.”
Suara di ujung telepon itu membuat dunia Arga berhenti sejenak. Ia tidak sempat menyelesaikan kalimat yang sedang diketiknya di email kerja. Dalam hitungan menit, ia sudah menelepon atasannya, memesan tiket kereta tercepat, dan mengemasi tas seadanya.
Sepanjang perjalanan tujuh jam ke kampung halaman, pikirannya dipenuhi rasa bersalah yang datang bertubi-tubi. Kapan terakhir kali ia benar-benar duduk lama bersama ibunya, mendengarkan cerita-ceritanya tanpa sambil memegang ponsel? Kapan terakhir kali ia menelepon duluan, bukan menunggu ditelepon?
Ia tidak menemukan jawabannya. Dan justru itulah yang paling menyakitkan.
Sesampainya di rumah sakit kota, ia mendapati ibunya terbaring dengan kaki kiri dibalut perban, wajahnya pucat namun masih sempat tersenyum ketika melihat Arga masuk ke ruangan.
“Lho, kok pulang? Ibu cuma jatuh kecil ini, nggak usah repot-repot,” katanya, suaranya lemah tapi nada bicaranya masih seperti biasa—ringan, seolah tidak ingin merepotkan siapa pun, bahkan ketika ia sendiri yang sedang kesakitan.
Arga menggenggam tangan ibunya. Tangan itu terasa lebih kurus dari yang ia ingat, kulitnya lebih tipis, urat-uratnya lebih menonjol. Kapan tangan ini berubah begitu banyak tanpa ia sadari?
“Bu, kenapa nggak bilang kalau lantai kamar mandi licin? Kenapa nggak minta tolong pasang pegangan?” Arga bertanya, setengah menyalahkan diri sendiri, setengah menyalahkan keadaan.
Ibunya hanya tertawa kecil. “Ah, biasa aja itu. Namanya juga orang tua, sesekali jatuh itu wajar.”
Dokter mengatakan tulang pinggul ibunya retak dan perlu perawatan serta istirahat total selama beberapa minggu. Arga memutuskan untuk mengambil cuti panjang dan tinggal di rumah, menemani masa pemulihan ibunya.
Rumah masa kecilnya itu ternyata masih persis seperti yang ia ingat—bahkan mungkin waktu di sana berjalan lebih lambat dibanding di Jakarta. Jam dinding di ruang tamu masih sama, jarumnya masih sering telat lima menit karena baterainya yang mulai lemah tapi tak pernah diganti. Kursi rotan tua di teras masih di tempat yang sama, dengan bantalan yang sudah pipih dimakan waktu. Radio kecil peninggalan almarhum ayahnya masih menyala setiap pagi, memutar siaran berita dan lagu-lagu lawas dengan suara yang agak berderak.
Arga duduk di kursi rotan itu pada sore hari kedua kepulangannya, menikmati udara kampung yang jauh lebih sejuk dibanding polusi Jakarta. Saat itulah pandangannya jatuh ke sudut teras, ke sepasang sandal jepit berwarna biru yang sudah lusuh, talinya sudah agak kendur, warnanya memudar oleh matahari bertahun-tahun.
Ada sesuatu yang familiar dari sandal itu. Arga mencoba mengingat-ingat, lalu tersadar—itu sandalnya sendiri, sandal yang ia pakai semasa SMA dulu. Sandal itu sudah kekecilan sejak lebih dari belasan tahun lalu, sejak kakinya bertumbuh dan ia pindah ke sepatu-sepatu yang lebih pantas untuk kuliah dan bekerja.
“Bu,” panggilnya ketika ibunya, dengan dibantu tongkat, keluar ke teras untuk menikmati udara sore. “Kok sandal ini masih disimpan? Ini kan sandal Arga waktu SMA dulu.”
Ibunya duduk perlahan di kursi sebelahnya, lalu tertawa ringan—tawa yang sama seperti yang selalu Arga dengar sejak kecil, tawa yang seolah bisa membuat masalah sebesar apa pun terasa ringan.
“Kalau kamu pulang mendadak, masa harus nyari sandal dulu,” jawabnya sederhana, seolah itu adalah alasan paling masuk akal di dunia.
Arga tersenyum, meski ada sesuatu yang mengganjal di dadanya—sesuatu yang belum bisa ia jelaskan. Ia hanya mengangguk, lalu mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Tapi kalimat ibunya itu terus terngiang, bahkan hingga malam hari ketika ia berbaring di kamar lamanya yang tak berubah.
Keesokan harinya, saat mencari obat di lemari kamar ibunya, Arga tanpa sengaja membuka laci lemari pakaian yang sudah lama tak pernah ia sentuh. Di sana, terlipat rapi dengan wangi kapur barus yang khas, ada seragam SD-nya—lengkap dengan dasi merah dan topi pramuka yang sudah agak pudar warnanya.
Ia mengangkat seragam itu perlahan, seperti mengangkat sesuatu yang rapuh. Ukurannya begitu kecil di tangannya sekarang. Ia ingat betapa ia pernah membencinya karena harus disetrika setiap malam sebelum sekolah, dan sekarang seragam itu masih ada, terlipat dengan kerapian yang hanya bisa dilakukan oleh tangan yang sangat menyayanginya.
Di rak buku dekat jendela, ia menemukan sebuah piala kecil, agak berkarat di beberapa bagian, dengan tulisan yang mulai memudar: Juara 1 Lomba Mewarnai, Kelas 3 SD. Sebuah piala yang, jujur saja, sudah lama ia lupakan keberadaannya. Tapi di rumah ini, piala itu masih dipajang dengan bangga, seolah prestasi kecil seorang anak berusia sembilan tahun adalah pencapaian yang layak dikenang selamanya.
Dan yang paling membuat dadanya sesak adalah ketika ia melihat kalender dinding di kamar itu—kalender lama, bertahun-tahun yang berbeda, tapi masing-masing memiliki satu kesamaan: ada lingkaran merah di tanggal yang sama setiap tahunnya. Tanggal lahir Arga.
Ia membuka satu per satu kalender lama yang disimpan ibunya di sudut lemari—rupanya ibunya menyimpan kalender-kalender itu, tidak dibuang begitu saja setelah tahunnya berlalu. Di setiap lembar bulan yang sama, ada lingkaran merah yang sama, kadang dengan catatan kecil di sampingnya: “Arga ulang tahun ke-25, semoga sehat selalu, Nak”, atau “Arga 28 tahun, semoga cepat pulang.”
Arga duduk di lantai kamar itu, mengelilingi dirinya dengan tumpukan kalender lama, seragam SD, dan piala berkarat. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia menangis—bukan tangisan kecil, tapi tangisan yang datang dari tempat yang dalam, tempat yang selama ini ia tutup rapat dengan kesibukan dan alasan-alasan yang ia buat sendiri.
Ia menyadari sesuatu yang menyakitkan: ibunya tidak pernah benar-benar berhenti menunggunya. Setiap benda di rumah ini adalah bukti dari penantian yang tak pernah usai—penantian yang dijaga dengan sabar, tanpa protes, tanpa tuntutan, hanya dengan cinta yang diam-diam terus dirawat.
Sementara itu, apa yang telah Arga berikan sebagai balasannya? Panggilan telepon yang ditolak. Pesan yang dibalas dengan emoji. Janji “nanti” yang terus ditunda hingga bertahun-tahun berlalu tanpa disadari.
Ia teringat semua alasan yang selama ini ia gunakan—pekerjaan, karier, masa depan yang lebih baik. Semua itu terasa penting saat itu. Tapi duduk di lantai kamar ini, dikelilingi bukti-bukti kasih sayang seorang ibu yang tak pernah lelah menunggu, semua alasan itu terasa begitu kecil dan rapuh.
Malam itu, Arga duduk di samping ranjang ibunya yang sedang beristirahat. Ia menggenggam tangan kurus itu lagi, kali ini lebih lama, lebih erat.
“Bu,” katanya pelan, “maaf ya, Arga selama ini jarang pulang.”
Ibunya membuka mata, menatapnya dengan lembut. “Nggak apa-apa, Nak. Ibu tahu kamu sibuk cari nafkah. Yang penting kamu sehat, kerjaan lancar.”
“Tapi Bu… Arga baru sadar, ternyata Ibu nggak pernah berhenti nunggu Arga pulang, ya? Sandal itu, seragam SD, piala, kalender—semuanya masih disimpan.”
Ibunya tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca meski suaranya tetap tenang. “Namanya juga ibu, Nak. Anak boleh lupa, tapi ibu nggak pernah bisa lupa. Rumah ini ya rumah kamu juga. Selalu terbuka, kapan pun kamu mau pulang.”
Kalimat sederhana itu menghantam dada Arga lebih keras dari kalimat apa pun yang pernah ia dengar. Ia menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai basah, lalu mengecup punggung tangan ibunya.
“Arga janji, mulai sekarang bakal lebih sering pulang, Bu.”
Tiga bulan setelah kejadian itu, Arga mengajukan perubahan sistem kerja kepada atasannya—dari kerja penuh di kantor menjadi hybrid, dengan kesepakatan bisa bekerja dari kampung halaman beberapa hari dalam sebulan. Awalnya ia ragu, khawatir keputusan itu akan menghambat kariernya. Tapi setelah malam itu, ia sadar ada hal-hal yang tidak bisa ditukar dengan jabatan atau kenaikan gaji—dan waktu bersama orang tua adalah salah satunya.
Ibunya sudah pulih, meski masih harus berjalan dengan hati-hati dan sesekali menggunakan tongkat. Kehidupan di rumah kembali ke ritme normalnya: jam dinding yang masih telat lima menit, radio kecil yang masih menyala tiap pagi, dan kursi rotan di teras yang kini lebih sering ditempati berdua.
Suatu Jumat sore, Arga memutuskan untuk pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu—sesuatu yang dulu tidak pernah ia lakukan, karena ia selalu merasa perlu memberi tahu jauh-jauh hari, seolah kepulangannya adalah acara besar yang perlu direncanakan.
Kali ini berbeda. Ia hanya naik kereta sore, lalu berjalan kaki dari stasiun kecil ke rumahnya yang berjarak sepuluh menit, menikmati udara kampung yang mulai menghangat menjelang senja.
Sesampainya di depan rumah, ia melihat teras yang sama, kursi rotan yang sama, dan di sudutnya, sepasang sandal jepit biru yang lusuh itu—masih di tempatnya, seolah menanti dengan sabar seperti biasa.
Arga tersenyum. Kali ini, ia melepas sepatunya dan sengaja memakai sandal itu—sandal yang sudah terlalu kecil untuk kakinya sekarang, membuat tumitnya keluar setengah dari alasnya. Rasanya sempit dan tidak nyaman, tapi entah kenapa, itu adalah rasa tidak nyaman yang paling hangat yang pernah ia rasakan.
Dari dalam rumah, ibunya melihatnya melalui jendela dan tertawa kecil, tawa yang sama seperti dulu.
“Kan Ibu bilang,” katanya sambil berjalan pelan ke teras dengan bantuan tongkatnya, “siapa tahu kamu pulang mendadak.”
Arga ikut tertawa, meski ia merasakan matanya mulai basah. Ia berdiri dari kursi, memakai sandal kekecilan itu, dan memeluk ibunya erat-erat—pelukan yang lebih lama dari pelukan mana pun yang pernah mereka bagi selama bertahun-tahun terakhir.
Dalam pelukan itu, Arga akhirnya benar-benar memahami sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya. Sandal lusuh di teras itu bukanlah sekadar benda yang lupa dibuang. Bukan pula sekadar kebiasaan seorang ibu yang enggan membuang barang lama.
Sandal itu adalah cara paling sederhana—dan paling tulus—yang dimiliki seorang ibu untuk mengatakan sesuatu yang tak pernah terucap secara langsung:
“Rumah ini selalu menunggumu, Nak. Kapan pun kamu siap pulang.”
Dan kali ini, Arga berjanji pada dirinya sendiri—ia tidak akan lagi membiarkan kata “nanti” mencuri waktu yang seharusnya bisa ia berikan sejak dulu.
TAMAT
