Gedung Wirasena Tower hanya punya dua belas lantai. Aran tahu itu sepasti ia tahu namanya sendiri, karena selama tiga tahun terakhir ia bekerja lembur di lantai sepuluh, menatap panel lift yang sama setiap malam: tombol G, lalu 1 sampai 12, tak lebih.
Jadi ketika malam itu, jam sebelas lewat empat puluh, layar indikator di atas pintu lift menyala angka 13, Aran mengira matanya lelah.
Ia baru saja menyelesaikan audit keuangan tahunan—pekerjaan yang membuatnya harus tinggal sendirian di kantor sampai larut, ditemani mesin kopi yang sudah tiga kali rusak bulan ini dan lampu koridor yang berkedip seperti detak jantung yang tidak stabil. Gedung ini tua. Dulunya gedung perkantoran ramai sebelum kebakaran besar tahun 2018 menghanguskan tiga lantai atas dan menewaskan tujuh belas orang. Sejak direnovasi, manajemen baru selalu bilang gedung ini hanya dibangun ulang sampai lantai dua belas—tiga lantai yang terbakar itu dianggap terlalu rusak untuk dipakai lagi, lalu dibongkar sepenuhnya.
Tidak ada lantai tiga belas.
Tapi lift di depannya kini berhenti, pintu logam itu berderit terbuka dengan suara yang menggigit telinga, dan cahaya putih terang menyembur keluar dari dalamnya—terlalu terang untuk jam segini, terlalu ramai untuk lantai yang seharusnya tidak ada.
Aran melangkah mundur satu kali. Lalu, entah kenapa—rasa penasaran yang selalu jadi kelemahannya sejak kecil—ia melangkah masuk.
Pintu lift menutup di belakangnya dengan bunyi berdengung pelan, dan ketika terbuka kembali, yang menyambutnya bukan koridor gelap yang biasa ia lewati, melainkan ruang kantor terang benderang, penuh suara. Telepon berdering di sana-sini. Mesin faks—mesin faks, benda yang sudah ia lihat terakhir kali di gudang arsip—berbunyi mencicit sambil mencetak kertas. Orang-orang berlalu-lalang dengan kemeja rapi, membawa map kertas, berbicara satu sama lain tentang deadline dan rapat direksi.
Tidak ada yang menyadari kehadirannya untuk beberapa detik, sampai seorang perempuan berkacamata dengan name tag bertuliskan Ratih – Divisi Keuangan menabraknya pelan sambil membawa setumpuk map.
“Eh, maaf—” Ratih berhenti, menatap Aran dengan bingung. “Kamu… pegawai baru? Aku belum pernah lihat kamu di lantai ini.”
“Lantai apa ini?” tanya Aran, suaranya lebih bergetar dari yang ia inginkan.
Ratih mengerutkan kening seperti mendengar pertanyaan paling aneh sepanjang hari. “Lantai tiga belas. Divisi Keuangan dan Personalia. Kamu baik-baik saja?”
Aran memandang berkeliling. Kalender dinding di dekat meja resepsionis menunjukkan bulan dan tanggal yang membuat dadanya sesak: 12 Maret 2018.
Tanggal yang ia hafal luar kepala. Tanggal kebakaran besar itu terjadi.
Ia tidak langsung percaya. Siapa yang akan percaya begitu saja bahwa dirinya baru saja melangkah keluar dari lift dan mendarat delapan tahun ke masa lalu, di lantai yang menurut catatan resmi gedung sudah tidak ada?
Tapi semua detail di sekelilingnya terlalu nyata untuk diabaikan sebagai halusinasi. Bau kertas dan tinta printer lama. Suara dering telepon meja yang sudah lama punah dari kantor modern. Poster kampanye “Hemat Energi 2018” yang tertempel miring di dinding, dengan tepi yang sudah menguning namun belum robek seperti versi yang pernah ia lihat di arsip foto lama gedung ini.
Dan yang paling mengerikan: ia mengenali beberapa wajah di ruangan itu.
Bukan karena pernah bertemu langsung. Tapi karena ia pernah melihat nama-nama mereka di plakat peringatan kecil yang terpasang di lobi gedung—plakat yang selalu ia lewati tanpa banyak berpikir setiap pagi, bertuliskan “Mengenang tujuh belas korban kebakaran 12 Maret 2018.”
Ratih. Nama itu ada di plakat itu.
“Jam berapa sekarang?” tanya Aran, mencoba menahan suaranya agar tidak terdengar panik.
“Sebelas lewat empat puluh lima,” jawab Ratih sambil melirik jam tangannya. “Kenapa? Kamu terburu-buru mau pulang?”
Aran menghitung dalam kepalanya. Berdasarkan berkas investigasi yang pernah ia baca—ia sempat penasaran dan mencari tahu sejarah gedung tempatnya bekerja—kebakaran mulai terjadi sekitar pukul satu dini hari, dipicu oleh korsleting listrik di ruang server lantai tiga belas yang menjalar cepat karena sistem sprinkler di lantai itu ternyata tidak berfungsi, sebuah kelalaian perawatan yang baru terungkap setelah investigasi selesai—terlambat bagi tujuh belas orang yang saat itu masih lembur.
Ia punya waktu kurang dari satu jam lima belas menit.
“Kalian harus keluar dari gedung ini sekarang,” kata Aran, berdiri di tengah ruangan, suaranya lebih keras dari yang ia rencanakan.
Beberapa pegawai menoleh, sebagian tertawa kecil mengira itu lelucon garing dari orang baru.
“Akan ada kebakaran,” lanjutnya. “Malam ini. Sistem sprinkler di lantai ini rusak. Percayalah, kalian harus pergi—”
“Kamu ini siapa sih sebenarnya?” seorang pria berusia sekitar lima puluhan—name tag bertuliskan Pak Handoyo, Kepala Divisi—melangkah maju dengan raut curiga. “Aku tidak pernah lihat kamu sebelumnya, dan sekarang kamu tiba-tiba bicara soal kebakaran? Kamu wartawan? Atau orang suruhan kompetitor yang mau bikin kepanikan menjelang audit besok?”
“Saya bukan siapa-siapa yang berbahaya, saya cuma—” Aran berhenti sejenak, menyadari betapa gilanya kalimat yang hendak ia ucapkan. “Saya dari masa depan. Delapan tahun dari sekarang. Saya tahu apa yang akan terjadi malam ini.”
Ruangan itu sunyi sesaat, lalu tawa pecah di beberapa sudut—bukan tawa mengejek sepenuhnya, lebih seperti tawa orang yang tidak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap seseorang yang jelas terdengar seperti sedang mengalami gangguan jiwa.
Hanya Ratih yang tidak tertawa. Ia menatap Aran lama, seperti mencoba membaca sesuatu di balik matanya.
“Kamu serius,” bisiknya, lebih ke pernyataan daripada pertanyaan.
Handoyo tidak percaya, tapi ia cukup berhati-hati untuk tidak mengambil risiko—atau mungkin ia hanya ingin menyingkirkan orang aneh ini secepat mungkin dari ruangannya.
“Baik, akan aku hubungi keamanan gedung. Biar mereka yang urus kamu,” katanya sambil berjalan menuju telepon meja.
Aran tahu ia tidak punya banyak waktu untuk meyakinkan orang-orang ini dengan cara normal. Dan tiba-tiba ia teringat sesuatu: dompetnya. Ia merogoh saku, mengeluarkan kartu identitas pegawainya sendiri—kartu yang diterbitkan perusahaan yang sama, dengan logo yang sedikit berbeda desainnya dari versi delapan tahun lalu, namun jelas menunjukkan nama perusahaan yang identik, dan tanggal masa berlaku yang mustahil ada di tahun 2018: berlaku hingga 2027.
Ia melemparkan kartu itu ke meja Handoyo.
Pria itu memungutnya, membacanya dengan kening berkerut semakin dalam, lalu mendongak menatap Aran dengan raut wajah yang berubah drastis—dari curiga menjadi sesuatu yang mendekati ketakutan.
“Ini… kartu asli perusahaan,” gumamnya. “Tapi tanggalnya—ini belum diterbitkan. Format nomor pegawai ini… aku belum pernah lihat format seperti ini.”
“Karena itu belum ada,” jawab Aran pelan. “Belum, di tahun kalian sekarang.”
Ratih adalah orang pertama yang benar-benar mempercayainya, dan mungkin karena itulah Aran akhirnya tahu siapa dirinya sebenarnya di antara ketujuh belas nama di plakat itu—bukan sekadar nama asing, melainkan seseorang yang, dalam garis waktu Aran, akan menjadi ibu dari rekan kerjanya sendiri di masa depan, seorang anak kecil bernama Dinda yang tumbuh tanpa ibu karena kebakaran ini.
“Kalau kamu benar-benar dari masa depan,” kata Ratih pelan, matanya berkaca-kaca menahan campuran antara takut dan harap, “tolong, bantu kami. Aku punya anak perempuan di rumah. Umurnya baru empat tahun.”
Kalimat itu menghantam Aran lebih keras daripada yang ia duga.
Karena di masa depannya, Dinda—anak perempuan yang dimaksud Ratih—memang tumbuh dewasa, kini berusia dua puluh empat tahun, bekerja sebagai staf HR di perusahaan yang sama, hanya beberapa meja dari mejanya sendiri. Dinda pernah bercerita, dengan mata yang selalu berkaca setiap kali menyebutnya, bahwa ibunya meninggal dalam kebakaran gedung ini ketika ia masih sangat kecil, dan bahwa satu-satunya kenangan yang tersisa hanyalah foto usang dan cerita orang lain.
Jika Aran berhasil menyelamatkan Ratih malam ini, Dinda di masa depan akan tumbuh dengan ibunya di sisinya.
Tapi jika sejarah berubah sedrastis itu—apakah Dinda yang ia kenal sekarang akan tetap ada? Apakah garis waktu tempatnya berasal akan tetap sama? Ataukah ia sedang berdiri di ambang menciptakan dunia yang sepenuhnya asing, dunia di mana dirinya sendiri mungkin tidak pernah bekerja di gedung ini, tidak pernah mengenal orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya?
Jarum jam menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh ketika Aran akhirnya berhasil meyakinkan cukup banyak orang untuk mulai mengemasi barang dan turun melalui tangga darurat—sebagian karena kartu anehnya, sebagian karena raut wajah Aran yang begitu tulus ketakutan hingga sulit dianggap sekadar lelucon, dan sebagian lagi, mungkin, karena mereka sendiri sudah lama merasakan sesuatu yang janggal dengan gedung tua ini.
Namun Handoyo masih ragu. “Aku harus tetap di sini sampai laporan bulanan selesai dikirim ke kantor pusat,” katanya sambil menatap tumpukan berkas di mejanya. “Kalau aku pergi sekarang tanpa alasan jelas, aku bisa kena masalah besar besok.”
“Pak Handoyo,” Aran mendekat, mencoba tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. “Nama Bapak ada di plakat peringatan di lobi gedung, di masa depan. Bapak salah satu dari tujuh belas orang yang tidak sempat keluar malam ini.”
Wajah Handoyo memucat. Untuk pertama kalinya sejak Aran tiba, pria itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap tumpukan berkas di mejanya, lalu menatap pintu keluar, lalu kembali menatap berkasnya—seperti menimbang seluruh hidupnya dalam hitungan detik.
Akhirnya ia berdiri. “Persetan dengan laporan bulanan,” gumamnya, lalu berteriak ke seluruh ruangan. “SEMUA ORANG, TURUN LEWAT TANGGA DARURAT SEKARANG! INI BUKAN LATIHAN!”
Ruangan yang tadinya penuh keraguan berubah jadi kekacauan yang terarah—orang-orang berlarian mengambil tas, menghindari lift yang sudah tidak bisa dipercaya, menuruni tangga darurat satu demi satu dengan wajah pucat namun langkah cepat.
Aran ikut turun bersama mereka, menghitung setiap kepala yang lewat di depannya, mencocokkan wajah-wajah itu dengan nama-nama yang selama ini hanya ia kenal sebagai ukiran di plakat tembaga.
Ketika mereka semua sudah berada di lobi, tepat pukul satu kurang lima menit, Ratih menoleh ke arahnya dengan mata basah. “Terima kasih,” bisiknya. “Untuk Dinda. Untuk semuanya.”
Aran hanya bisa mengangguk, tenggorokannya terlalu sesak untuk berkata apa-apa.
Dan tepat saat itu, lampu di lantai tiga belas—lantai yang menurutnya beberapa jam lalu masih penuh manusia dan suara telepon berdering—mulai berkedip liar melalui jendela luar gedung yang bisa terlihat dari lobi. Asap tipis mulai merembes dari celah ventilasi atas.
Semua orang di lobi menyaksikan dalam diam, sebagian menangis, sebagian hanya membeku, ketika api mulai menjilat jendela lantai tiga belas dari dalam—persis seperti yang selama ini hanya mereka kenal lewat cerita, kini terjadi tepat di depan mata mereka, namun kali ini tanpa memakan siapa pun.
Aran tidak ingat persis bagaimana ia kembali ke lift itu. Ia hanya ingat berjalan mundur perlahan menjauhi kerumunan yang masih syok, menuju lift tua yang pintunya kembali terbuka dengan sendirinya, seolah menunggunya.
Ia melangkah masuk. Pintu menutup. Dan ketika terbuka kembali, ia berdiri di koridor lantai sepuluh yang gelap dan sunyi, dengan mesin kopi rusak dan lampu berkedip yang sama seperti sebelumnya.
Panel di atas pintu lift kembali menunjukkan angka biasa: G sampai 12.
Tidak ada lantai tiga belas.
Keesokan paginya, Aran datang ke kantor lebih awal dari biasanya, jantungnya berdebar antara harap dan takut. Ia berjalan menuju lobi, menuju plakat tembaga yang selama ini selalu ia lewati tanpa banyak pikir.
Plakat itu masih ada di sana. Namun kali ini, tulisannya berbeda.
“Mengenang kejadian kebakaran 12 Maret 2018. Berkat evakuasi cepat, seluruh pegawai berhasil selamat.”
Tidak ada daftar nama korban lagi. Hanya satu baris kecil di bawahnya, yang membuat dada Aran terasa hangat sekaligus dingin bersamaan:
“Gedung direnovasi. Lantai 13 ditutup permanen untuk alasan keamanan struktural.”
Ia berdiri lama di depan plakat itu, mencoba memahami dunia yang kini ia tinggali. Apakah ini dunia yang sama dengan yang ia tinggalkan kemarin, hanya dengan sejarah yang diperbaiki? Ataukah ia sekarang hidup di garis waktu yang sepenuhnya baru, di mana dirinya sendiri mungkin memiliki masa lalu yang berbeda, rekan kerja yang berbeda, bahkan mungkin tidak pernah benar-benar melangkah ke lift malam itu?
Ia tidak sempat menyelesaikan pikirannya, karena seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
“Pagi, Ran! Ngelamun aja dari tadi,” sapa suara yang sangat familier.
Aran menoleh. Dinda berdiri di sana, tersenyum seperti biasa, membawa dua cangkir kopi—satu untuknya, satu untuk Aran, seperti kebiasaan mereka setiap pagi selama dua tahun terakhir.
Tapi ada yang berbeda kali ini. Di belakang Dinda, berjalan seorang perempuan paruh baya berkacamata, membawa map kerja, tersenyum ramah ke arah mereka berdua.
“Ran, kenalin,” kata Dinda riang, “ini ibuku. Hari ini dia ikut ke kantor, ada urusan sama tim keuangan lama.”
Aran menatap perempuan itu—Ratih, kini lebih tua delapan tahun, dengan garis-garis halus di wajahnya yang tidak pernah ada dalam kenangan lama Dinda yang biasa ia dengar, kenangan tentang ibu yang hanya ia kenal lewat foto.
Untuk pertama kalinya sejak semalam, Aran tersenyum—senyum yang membawa beban berat sekaligus lega yang tak sanggup ia jelaskan kepada siapa pun.
“Salam kenal, Bu,” katanya pelan, suaranya bergetar menahan haru. “Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung.”
Ratih tersenyum, tak menyadari apa pun tentang malam yang telah mengubah segalanya. “Dinda sering cerita soal kamu. Katanya kamu rekan kerja paling baik yang pernah dia punya.”
Aran menatap Dinda, lalu Ratih, lalu ke arah lift di ujung lobi yang kini berdiri diam dengan panel biasa—G sampai 12, tidak lebih.
Ia tidak tahu pasti dunia macam apa yang kini ia tinggali, atau apakah suatu malam nanti lift itu akan kembali menunjukkan angka yang seharusnya tak pernah ada. Namun untuk saat ini, ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.
Beberapa hal, pikirnya, lebih baik dibiarkan menjadi misteri—selama hasilnya adalah pagi seperti ini, dengan secangkir kopi hangat, dan orang-orang yang seharusnya sudah lama tiada, kini berjalan hidup di sampingnya.
Selesai.
