Bintang-bintang mati dengan cara yang aneh belakangan ini.
Tidak ada ledakan. Tidak ada nova yang menyilaukan mata dan meninggalkan nebula berwarna-warni sebagai nisan. Bintang-bintang hanya… meredup. Perlahan. Seolah sesuatu menyedot kehangatan dari dalam intinya, meninggalkan cangkang dingin yang masih berbentuk bintang tapi sudah tak lagi hidup.
Kaelen menyaksikan itu setiap malam melalui jendela observasi di dek bawah kapal induk Ceylondra, sambil menggenggam cangkir logam berisi teh yang sudah dingin sejak setengah jam lalu. Ia tidak lagi terkejut. Ia hanya lelah.
“Bintang HR-9 padam tadi pagi,” kata Ori, asisten kapal berbentuk drone kecil yang melayang di sampingnya, cahaya birunya berkedip pelan seperti napas yang tertahan. “Itu yang keenam belas bulan ini.”
“Aku tahu,” jawab Kaelen. “Aku bisa merasakannya.”
Dan memang begitu. Sebagai Pyromancer, penyihir api—gelar yang terdengar seperti dongeng anak-anak namun menjadi satu-satunya alasan spesies manusia masih bernapas di kegelapan ini—Kaelen bisa merasakan setiap kematian bintang seperti tusukan kecil di dadanya. Bukan rasa sakit fisik. Lebih seperti kehilangan yang tidak bisa ia jelaskan, seolah sebagian dari dirinya ikut padam bersama cahaya yang menghilang itu.
Manusia menyebutnya Aethelgard.
Tidak ada yang benar-benar tahu wujudnya. Sebagian arsip kuno menyebutnya sebagai naga yang tidur di antara galaksi, sebagian lagi menyebutnya lubang tanpa dasar yang memakai bintang sebagai makanan. Yang pasti, sesuatu yang sangat tua telah bangun dari tidurnya yang berabad-abad, dan ia lapar—bukan akan materi, bukan akan hidrogen atau helium, melainkan akan esensi. Nyala hidup yang membuat sebuah bintang benar-benar bersinar, bukan sekadar bereaksi fusi.
Dan satu per satu, ia memakannya.
Armada manusia—tujuh belas kapal induk raksasa yang membawa sisa-sisa peradaban—telah mengembara selama dua generasi, mencari sistem bintang yang aman dari jangkauan Aethelgard. Setiap kapal digerakkan oleh Perapian, tungku raksasa yang menyimpan sihir api kuno, peninggalan leluhur Pyromancer yang jumlahnya kini tinggal satu: Kaelen.
Ia bukan penyihir yang lahir dari ramalan atau garis keturunan agung. Ia hanya seorang mekanik kapal yang kebetulan memiliki bakat langka itu—kemampuan untuk berbicara dengan api, memberinya makan dengan sebagian kecil jiwanya sendiri agar ia tidak padam. Setiap generasi, jumlah Pyromancer semakin berkurang. Dulu ada dua belas. Kemudian tujuh. Kemudian tiga.
Sekarang hanya dia.
“Perapian Utama turun lagi ke tujuh puluh dua persen,” lapor Ori sambil memproyeksikan grafik kecil berwarna jingga pudar di udara. “Kapten Sorensa memintamu ke ruang kendali. Segera.”
Kaelen menghela napas, meletakkan cangkirnya yang sudah dingin, dan berjalan menyusuri lorong kapal yang berdenging pelan. Dinding-dinding Ceylondra dipenuhi ukiran rune tua—simbol-simbol yang diwariskan dari masa ketika sihir dan mesin belum saling bermusuhan, ketika manusia masih percaya bahwa keduanya bisa hidup berdampingan.
Kini, sihir dianggap barang antik. Mesin bicara dalam bahasa angka dan energi terukur, sementara api suci berbicara dalam bahasa yang jauh lebih tua: rasa, ingatan, pengorbanan.
Ruang kendali dipenuhi cahaya biru dari layar navigasi. Di tengahnya, hologram raksasa menunjukkan posisi armada—tujuh belas titik cahaya kecil yang mengambang di tepi sebuah lubang hitam supermasif bernama Vethrax, gerbang gravitasi yang seharusnya mereka lewati untuk mencapai koridor lompatan dimensi menuju sistem bintang yang masih hidup.
Seharusnya.
“Kita terjebak,” kata Kapten Sorensa tanpa basa-basi begitu Kaelen masuk. Wajahnya keras, namun matanya menyiratkan sesuatu yang lebih rapuh dari sekadar lelah. “Medan gravitasi Vethrax lebih kuat dari perhitungan kita. Mesin lompatan butuh energi tiga kali lipat dari kapasitas normal untuk menembus lengkungan ruang ini.”
“Dan Perapian tidak punya energi sebanyak itu,” sambung Kaelen pelan.
“Tidak dalam kondisinya sekarang.” Sorensa menatapnya lurus. “Aethelgard sedang bergerak ke arah kita, Kaelen. Ori mendeteksi gelombang esensi menghilang dari tiga bintang terdekat dalam dua belas jam terakhir. Ia sedang membersihkan jalan menuju kita.”
Ruangan itu sunyi, hanya diisi dengung mesin dan detak jantung Kaelen sendiri yang tiba-tiba terasa terlalu keras di telinganya.
“Berapa lama sebelum Perapian benar-benar padam?” tanyanya.
“Dengan laju penurunan sekarang—” Ori melayang maju, cahayanya meredup sesaat, seolah drone kecil itu pun enggan mengucapkan angka itu. “Delapan belas jam.”
Delapan belas jam sebelum tujuh belas kapal, ratusan ribu manusia, dan satu-satunya nyala harapan yang tersisa di galaksi ini membeku dalam kehampaan abadi.
Kaelen menghabiskan malam itu di dalam Perapian Utama—ruangan besar berbentuk kubah di jantung kapal, tempat api abadi menyala di tengah lingkaran logam berukir rune purba. Api itu tidak berwarna oranye seperti api biasa. Warnanya keemasan, hampir keperakan, berkobar tanpa asap dan tanpa membutuhkan oksigen. Ia hidup karena sihir, bukan karena kimia.
Dan sekarang, ia sekarat.
Kaelen duduk bersila di depannya, meletakkan kedua telapak tangan di dekat kobaran yang mulai goyah, seperti lilin yang kehabisan sumbu.
“Aku di sini,” bisiknya, seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil, ketika gurunya—Pyromancer terakhir sebelum dirinya—mengajarkannya bahwa api bukan sekadar energi, melainkan makhluk hidup yang butuh ditemani, bukan hanya diberi makan.
Api bergetar lemah, seolah menjawab.
Aku lelah, rasanya begitu yang ia dengar, meski tak ada suara sungguhan. Hanya getaran di dalam dadanya, bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang lahir dengan darah Pyromancer. Terlalu banyak yang kuberikan. Terlalu sedikit yang tersisa untuk kuberikan lagi.
“Aku tahu,” jawab Kaelen, suaranya pecah di ujung kalimat. “Tapi aku butuh kau bertahan. Sedikit lagi. Untuk mereka.”
Ia memikirkan wajah-wajah di kapal ini—anak-anak yang lahir dan besar tanpa pernah melihat langit yang sesungguhnya, hanya simulasi bintang di layar observasi; orang-orang tua yang masih ingat bagaimana rasanya berdiri di tanah, merasakan matahari sungguhan menghangatkan kulit mereka. Semua itu bergantung pada nyala kecil yang goyah di hadapannya.
Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia sudah tahu sejak gurunya mengajarkan ritual terakhir, ritual yang tidak pernah ingin ia gunakan: Penyerahan Nyala. Seorang Pyromancer bisa menyalurkan seluruh esensi hidupnya sendiri ke dalam api, menyalakannya kembali dengan kekuatan penuh—namun hanya sekali, dan hanya dengan harga yang tak bisa ditawar.
Kehidupannya sendiri.
“Tidak,” kata Sorensa tegas ketika Kaelen menyampaikan rencananya keesokan paginya—meski di ruang hampa seperti ini, kata “pagi” hanya berarti pergantian jadwal kerja kapal. “Aku tidak akan membiarkan kita bertahan hidup dengan mengorbankan orang terakhir yang bisa menjaga kita tetap hidup. Itu paradoks yang bodoh, Kaelen.”
“Kalau begitu apa rencanamu?” Kaelen balik bertanya, lebih keras dari yang ia inginkan. “Menunggu delapan belas jam sampai kita semua beku? Setidaknya dengan caraku, armada punya kesempatan untuk lompat melewati Vethrax sebelum Aethelgard sampai.”
“Dan kau akan mati.”
“Aku Pyromancer terakhir, Sorensa.” Kaelen menatapnya, matanya basah namun suaranya tetap datar, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan sesuatu yang menakutkan. “Tidak akan ada yang lahir setelahku untuk menggantikanku. Cepat atau lambat, api ini akan padam bersamaku juga. Bedanya sekarang aku bisa memilih agar kematianku berarti.”
Sorensa terdiam lama. Di luar jendela ruang kendali, cahaya keunguan mulai merembes dari arah cakrawala kosmik—tanda kehadiran sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar lubang hitam. Sesuatu yang bergerak dengan niat.
Aethelgard sudah dekat.
Kaelen kembali ke Perapian Utama membawa satu hal yang tidak pernah ia bawa sebelumnya: rasa takut yang jujur. Bukan takut mati—ia sudah menerima itu sejak lama sebagai bagian dari tugasnya. Tapi takut bahwa pengorbanannya akan sia-sia. Takut bahwa api ini akan tetap padam meski ia berikan segalanya.
Ia meletakkan tangan di atas kobaran keemasan itu, merasakan panasnya menjalar bukan membakar, melainkan seperti pelukan yang familier.
“Baiklah,” katanya pelan. “Ambil apa yang kau butuhkan.”
Namun sebelum ia mulai melafalkan mantra penyerahan, Ori melayang masuk dengan cepat, cahayanya berkedip gelisah.
“Kaelen, tunggu—” Drone kecil itu memutar sesuatu di layarnya, menampilkan pola energi yang ganjil. “Aku baru menganalisis ulang struktur mesin lompatan dimensi. Ada sesuatu yang aneh.”
“Aku tidak punya waktu untuk keanehan, Ori.”
“Justru karena itu kau harus dengar ini.” Ori memproyeksikan diagram mesin lompatan—inti kristal berbentuk heksagonal yang selama ini dianggap murni teknologi, tanpa sihir sedikit pun. “Frekuensi resonansi inti mesin ini… sama persis dengan frekuensi yang kau hasilkan saat berkomunikasi dengan Perapian. Bukan mirip. Identik.”
Kaelen terdiam. “Itu tidak mungkin. Mesin ini dibuat berabad-abad setelah sihir api dianggap punah dari teknologi kapal.”
“Atau,” kata Ori pelan, “mungkin para insinyur yang membangunnya tidak sadar bahwa mereka sebenarnya membangun sesuatu yang dirancang untuk bekerja sama dengan sihir, bukan menggantikannya. Rune purba di dinding kapal ini, Kaelen—kita selalu menganggapnya hanya hiasan atau sisa sejarah. Tapi lihat ini.”
Ia memutar hologram, menunjukkan bagaimana jalur rune di seluruh badan kapal Ceylondra sebenarnya membentuk satu sirkuit besar yang tersambung langsung dari Perapian Utama ke inti mesin lompatan—seolah kapal ini, sejak awal dibangun, dirancang bukan sebagai mesin murni atau sihir murni, melainkan sebagai keduanya sekaligus. Sesuatu yang dilupakan seiring generasi berlalu dan pengetahuan itu memudar bersama para Pyromancer yang mati satu per satu.
“Kau bilang harus memberikan seluruh esensimu untuk menyalakan mesin,” lanjut Ori. “Tapi bagaimana jika kau tidak perlu memberikan semuanya sekaligus sebagai pengorbanan? Bagaimana jika kau bisa menyalurkannya—bukan mengorbankan dirimu untuk api, tapi menyatukan dirimu dengan api, dan membiarkan keduanya mengalir bersama ke dalam mesin?”
“Itu belum pernah dilakukan,” bisik Kaelen. “Tidak ada catatan tentang itu.”
“Karena belum ada yang pernah mencobanya,” jawab Ori. “Semua Pyromancer sebelummu memilih mengorbankan diri karena itulah satu-satunya cara yang mereka tahu. Tapi kau, Kaelen—kau bukan hanya penyihir. Kau mekanik kapal ini. Kau satu-satunya orang di seluruh armada yang memahami keduanya: bahasa sihir dan bahasa mesin. Mungkin itu bukan kebetulan.”
Waktu tidak banyak tersisa. Di luar sana, siluet Aethelgard mulai tampak di ujung cakrawala—bukan wujud fisik yang bisa digambarkan, melainkan sebuah kekosongan yang bergerak, ruang tanpa cahaya yang menelan bintang-bintang kecil di sekitarnya seperti kabut menelan lilin.
Kaelen berlari menuju ruang mesin, tempat inti kristal heksagonal berputar pelan dalam keheningan biru. Sorensa dan beberapa kru sudah menunggu, wajah mereka dipenuhi kecemasan yang tak lagi mereka sembunyikan.
“Kau yakin ini akan berhasil?” tanya Sorensa.
“Tidak,” jawab Kaelen jujur. “Tapi aku yakin cara lama sudah pasti gagal menyelamatkan kita semua.”
Ia meletakkan kedua tangannya di permukaan inti kristal, sementara di ruangan lain, nyala Perapian Utama mulai menjulur seperti benang cahaya keemasan, mengalir melalui rune-rune purba di sepanjang lorong kapal, menuju ke tempat Kaelen berdiri.
Ia menutup mata.
Alih-alih melafalkan mantra penyerahan yang telah ia hafal sejak kecil—mantra yang berarti perpisahan, yang berarti mengalirkan seluruh dirinya sebagai bahan bakar terakhir—ia melafalkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang lebih menyerupai percakapan daripada pengorbanan.
“Aku tidak memberimu diriku,” bisiknya kepada api yang kini menyelimuti tubuhnya dalam pendar keemasan, hangat namun tidak membakar. “Aku mengajakmu ikut bersamaku.”
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang Pyromancer, api itu menjawab bukan dengan meredup atau menyala liar, melainkan dengan menyatu. Kaelen merasakan kesadarannya melebar, seperti berdiri di dua tempat sekaligus—di dalam tubuhnya sendiri, dan di dalam kobaran cahaya yang kini mengalir ke seluruh sirkuit kapal.
Inti kristal mesin lompatan mulai bersinar, bukan dengan cahaya listrik biasa, melainkan pendar keemasan yang hangat—warna yang sama persis dengan Perapian Utama. Untuk pertama kalinya, sihir dan teknologi tidak lagi saling menggantikan, melainkan saling melengkapi, seperti dua nada berbeda yang akhirnya menemukan harmoni setelah dipisahkan terlalu lama.
“Energi mesin naik!” seru salah satu kru, suaranya bergetar antara panik dan takjub. “Seratus dua puluh persen… seratus lima puluh… ini tidak masuk akal, tapi—stabil! Sangat stabil!”
Sorensa menatap Kaelen yang masih berdiri dengan mata tertutup, tubuhnya diselimuti cahaya keemasan yang lembut, wajahnya tenang seperti orang yang sedang bermimpi indah, bukan seperti orang yang sedang sekarat.
“Kaelen?” panggilnya pelan.
Kaelen membuka mata. Cahaya keemasan itu masih ada, mengalir pelan di bawah kulitnya seperti aliran sungai kecil, namun ia masih di sana. Masih hidup. Masih dirinya sendiri—hanya saja kini menjadi sesuatu yang sedikit berbeda. Sesuatu yang lebih.
“Aku baik-baik saja,” bisiknya, hampir tidak percaya pada kata-katanya sendiri. “Kita berdua baik-baik saja.”
Ceylondra melompat tepat tiga menit sebelum bayangan Aethelgard mencapai jangkauannya, diikuti oleh enam belas kapal lain dalam armada yang menangkap gelombang energi baru itu dan menyalurkannya ke mesin lompatan masing-masing—energi yang kini disebut kru kapal sebagai Nyala Sinergi, perpaduan antara sihir kuno dan mesin modern yang selama ini dianggap mustahil untuk disatukan.
Di ruang observasi, beberapa jam setelah lompatan, Kaelen berdiri sendirian memandang cakrawala baru—sistem bintang asing yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, namun masih bersinar terang, hidup, belum tersentuh oleh kelaparan Aethelgard.
Ia meletakkan tangan di kaca jendela, merasakan hangat samar yang kini mengalir tak hanya di dalam Perapian Utama, tapi di sepanjang seluruh tubuh kapal, seperti nadi yang berdenyut bersama detak jantungnya sendiri.
Ia bukan lagi sekadar penjaga api.
Ia adalah bagian darinya.
Dan di kejauhan sana, di antara bintang-bintang baru yang belum sempat dijamah kegelapan, Kaelen tersenyum kecil—senyum yang mengandung kelelahan panjang seorang penjaga terakhir, namun juga harapan tipis bahwa mungkin, untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang manusia mengembara di ruang hampa, mereka tidak lagi hanya bertahan.
Mereka mulai belajar bagaimana caranya benar-benar hidup lagi—dengan menyatukan apa yang dulu mereka pisahkan, dan menjaga api itu bukan sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari diri mereka sendiri.
Selesai.
