Bus itu berderit pelan sebelum akhirnya berhenti total di terminal kecil pinggir desa, meninggalkan debu tipis yang mengambang di udara sore. Aruna turun dengan langkah gontai, ransel besar menggantung di satu bahu, kamera DSLR menggelayut di leher seperti beban yang tak pernah mau ia lepaskan. Matanya sembap—bukan karena debu jalan, tapi karena tiga hari terakhir ia habiskan untuk menangis diam-diam di kamar kos, sebelum akhirnya memutuskan kabur dari kota yang tiba-tiba terasa terlalu sesak.
Dikhianati itu rasanya aneh. Bukan cuma sakit di dada, tapi juga rasa malu yang menjalar ke ubun-ubun, seolah semua orang tahu bahwa kekasihnya selama tiga tahun ternyata sudah punya rencana menikah dengan perempuan lain sejak setahun lalu. Aruna, si fotografer yang biasa menangkap momen orang lain bahagia, tak sempat memotret kebohongan yang terjadi tepat di depan matanya sendiri.
“Mbak Aruna, ya?” Sebuah suara membelah lamunannya.
Ia menoleh. Seorang pemuda berdiri di samping pikap tua warna hijau lumut yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Kaos oblong abu-abu, sandal gunung yang sudah menipis solnya, kulit kecokelatan yang terbakar matahari desa. Senyumnya lebar, tulus, jenis senyum yang sudah lama tak Aruna temui di kota.
“Iya. Kamu… Arun?”
“Bener! Yang punya penginapan bilang, ada tamu dari kota mau ke Hulu Bambu. Ayo, Mbak, saya anter.” Arun langsung menyambar ransel Aruna tanpa basa-basi, seakan itu sudah jadi kebiasaannya menjemput tamu yang keletihan.
Aruna hanya mengangguk pendek, lalu masuk ke pikap tanpa banyak bicara. Sepanjang jalan yang berkelok dan berdebu, Arun sesekali bercerita tentang desa—tentang panen kopi yang baru saja lewat, tentang anak-anak yang suka mandi di sungai sepulang sekolah—sementara Aruna hanya menjawab seperlunya, matanya menatap kosong ke luar jendela. Dingin. Aruna memang sedang tak ingin ramah pada siapa pun, termasuk pada dunia.
Hari-hari berikutnya, Arun memandu Aruna berkeliling desa sesuai jadwal yang sudah disepakati lewat pemilik penginapan. Rutenya selalu sama: menyusuri jalan setapak berbatu, melewati kebun kopi, lalu turun ke hulu sungai yang airnya sebening kaca, dikelilingi hutan bambu yang bergoyang pelan tiap kali angin lewat.
“Coba, Mbak, injek dulu air sungainya,” kata Arun di hari ketiga, sambil menunjuk aliran jernih yang mengalir di antara bebatuan besar.
“Buat apa? Saya cuma mau motret,” jawab Aruna datar, mengangkat kameranya, membidik air yang berkilau kena cahaya sore.
“Justru itu. Kalau cuma diliat dari balik lensa, Mbak nggak bakal ngerasain dinginnya yang masuk sampai ke tulang. Coba dulu, baru jepret.”
Awalnya Aruna enggan. Tapi entah kenapa, kaki telanjangnya perlahan menyentuh permukaan air itu—dan sensasi dingin yang tiba-tiba merambat dari telapak kaki ke betis membuatnya tersentak kecil, hampir seperti kejut listrik yang menyegarkan. Ada rasa geli sekaligus lega, seolah dinginnya air itu menyapu sesuatu yang selama ini mengganjal di dadanya.
“Gimana?” tanya Arun, menahan senyum.
“Dingin,” jawab Aruna singkat, tapi ada sesuatu yang berbeda di suaranya—untuk pertama kalinya sejak turun dari bus, ada nada yang tidak lagi sedatar biasanya.
Hari demi hari, Aruna mulai memperhatikan hal-hal yang dulu tak pernah ia anggap penting: aroma tanah basah sehabis hujan yang bercampur dengan wangi daun bambu yang lembap, suara gemercik air yang seolah punya iramanya sendiri, cara warga desa mengucap syukur sederhana hanya karena panen kopi cukup untuk makan sebulan. Di kota, ia terbiasa memotret gedung-gedung megah dan wajah-wajah model yang tersenyum atas instruksi. Di sini, semuanya terjadi begitu saja, tanpa arahan, tanpa rekayasa.
Dan entah sejak kapan, lensa kameranya mulai sering mengarah ke Arun—diam-diam, tanpa sepengetahuan pemuda itu. Arun yang sedang membetulkan tali rakit bambu dengan wajah serius, keringat menetes di pelipisnya. Arun yang tertawa lepas bersama Pak RT sambil menyeruput kopi tubruk dari gelas belel. Arun yang berdiri membelakangi senja, siluetnya bercampur dengan warna jingga langit yang meleleh perlahan di ufuk barat.
Suatu sore, saat mereka menyusuri bebatuan licin di tepi sungai, kaki Aruna tergelincir. Ia limbung, refleks memekik pelan—dan dalam sepersekian detik, tangan Arun sudah menangkap pergelangannya, menariknya kembali seimbang.
“Hati-hati, Mbak,” ujar Arun, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya.
Jantung Aruna berdebar kencang, bukan cuma karena kaget hampir jatuh. Genggaman tangan Arun yang kasar karena kerja keras itu terasa hangat, kontras dengan air sungai yang dingin di sekelilingnya. Keduanya terdiam sesaat, canggung, sebelum akhirnya sama-sama melepaskan pegangan dan pura-pura sibuk dengan urusan masing-masing—Aruna memeriksa kameranya yang untung tak basah, Arun berdehem sambil melangkah lebih dulu.
Malam itu, di kamar penginapan yang sederhana, Aruna memandangi hasil jepretannya sore itu—salah satunya foto Arun yang menoleh, tertawa kecil, seolah tahu sedang dipotret. Ia tersenyum sendiri tanpa sadar, sebelum buru-buru menutup layar kamera seakan malu pada dirinya sendiri.
Malam terakhir sebelum kepulangan Aruna, mereka duduk berdua di warung kopi pinggir sungai, tempat langganan Arun. Uap dari kopi tubruk mengepul, aromanya beradu dengan bau daun bambu basah yang terbawa angin malam. Suara serangga dan gemericik air jadi latar yang menenangkan.
“Nama kita mirip ya, Mbak,” celetuk Arun tiba-tiba, mencoba mencairkan suasana. “Arun sama Aruna. Kata simbah dulu, kalau nama mirip gitu, artinya jodohnya udah disetel dari langit.”
Aruna tertawa kecil, untuk pertama kalinya tawa itu terdengar lepas sejak ia tiba di desa ini. “Itu kepercayaan dari mana, Run?”
“Nggak tau. Kepercayaan simbah saya aja, sih,” jawab Arun, nyengir.
Belum sempat Aruna membalas, ponselnya berdering. Nama atasan di kantor tertera di layar. Dengan raut wajah yang berubah serius, Aruna mengangkat telepon itu, membahas soal deadline pemotretan editorial untuk majalah, soal klien yang menunggu revisi, soal jadwal terbang ke kota lain minggu depan. Bahasa yang keluar dari mulutnya berubah total—cepat, formal, penuh istilah kerja yang asing di telinga Arun.
Setelah menutup telepon, Aruna menghela napas panjang. “Maaf, Run. Urusan kerjaan.”
Arun hanya mengangguk, tapi matanya menerawang ke arah sungai yang gelap. Ada sesuatu yang tiba-tiba terasa berbeda malam itu. Dunia Aruna—penuh deadline, klien, kota yang berkilau—begitu jauh dari dunianya yang hanya berisi rakit bambu dan wisatawan yang datang lalu pergi.
“Mbak Aruna emang beda,” ujar Arun pelan, lebih ke dirinya sendiri.
“Maksudnya?”
“Ya… Mbak pinter, kerjaannya keren, hidupnya bersinar. Saya cuma mandor rakit bambu di desa kecil ini.” Arun tersenyum, tapi senyum itu terasa dipaksakan. “Beda jauh sama saya.”
Aruna ingin membantah, tapi lidahnya kelu. Sisa malam itu, Arun jadi lebih pendiam, jawabannya singkat-singkat, sikapnya berubah formal seperti saat pertama kali menjemput Aruna di terminal. Aruna jadi bingung sendiri—apa yang salah? Apa Arun memang tak punya perasaan apa-apa selama ini, dan semua kedekatan mereka cuma bagian dari keramahan seorang pemandu wisata pada tamunya?
Ia pulang ke kamar penginapan malam itu dengan dada sesak, merasa jadi orang bodoh karena sempat berharap ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka.
Pagi berikutnya, Aruna bangun lebih awal dari jadwal, sebelum matahari benar-benar terbit. Ia mengemasi barang-barangnya dalam diam, lalu turun ke resepsionis penginapan.
“Bu, titip pesan buat Arun, ya. Bilang saya sudah harus balik ke kota. Terima kasih banyak untuk semuanya,” katanya pada pemilik penginapan, suaranya berusaha terdengar biasa saja, meski matanya berkaca-kaca.
Ia naik bus pertama pagi itu, memilih kabur diam-diam ketimbang berpamitan langsung—takut kalau bertemu Arun, air matanya akan tumpah begitu saja di depan pemuda itu.
Yang tak Aruna sadari, ia meninggalkan sesuatu di meja kamar penginapan: kamera saku analog tuanya, kamera pertama yang ia beli dengan tabungan hasil kerja paruh waktu semasa kuliah, benda yang selama ini selalu menemaninya ke mana pun ia pergi. Di sampingnya, tergeletak secarik kertas yang ia tulis tergesa-gesa dini hari tadi, sebelum akhirnya mengurungkan niat memberikannya langsung:
“Kota punya segalanya, tapi hatiku tertinggal di hulu sungai ini. Gulungan rol film di dalam sini adalah buktinya.”
Siang harinya, Arun datang ke penginapan seperti biasa, membawakan hasil kebun untuk sarapan tamu-tamu. Ia terkejut mendapati kabar Aruna sudah pergi. Dadanya mendadak sesak, penyesalan menjalar cepat—kenapa semalam ia jadi sedingin itu, kenapa ia biarkan gengsi dan rasa minder menghalangi apa yang sebenarnya ia rasakan?
Saat masuk ke kamar yang sudah kosong itu untuk membereskan seprai, matanya menangkap kamera saku dan kertas kecil di meja. Tangannya gemetar membuka lipatan kertas itu, membaca tulisan tangan Aruna yang rapi namun terburu-buru.
Dengan jantung berdebar, Arun menyalakan kamera itu, memutar ke mode pratinjau. Satu per satu foto muncul di layar kecilnya—dan semuanya adalah dirinya. Arun yang sedang membetulkan rakit dengan wajah serius. Arun yang tertawa lepas bersama Pak RT. Arun yang berdiri membelakangi senja, siluetnya berpadu dengan langit jingga. Semua diambil diam-diam, penuh perhatian, seperti seseorang yang menyimpan sesuatu yang berharga tanpa berani mengakuinya.
Arun merasa bodoh sekali. Selama ini ia sibuk minder karena merasa tak sepadan, padahal Aruna sudah menyimpan begitu banyak momen tentang dirinya—momen-momen kecil yang bahkan tak pernah Arun sadari berarti.
Tanpa pikir panjang, ia berlari keluar, menghidupkan pikap tuanya, menginjak gas sekuat tenaga menyusuri jalan berkelok menuju terminal. Debu mengepul di belakang ban, mesin pikap meraung-raung seperti ikut merasakan ketergesaan hatinya.
Sesampainya di terminal, bus yang ditumpangi Aruna baru saja hendak berangkat, asap knalpotnya mengepul, kernet sudah bersiap menutup pintu. Arun berlari sekuat tenaga, napasnya tersengal, keringat membasahi kaosnya.
“Aruna! Tunggu!”
Ia berhasil mengadang tepat sebelum bus benar-benar bergerak. Pintu bus terbuka. Aruna, yang duduk di dekat jendela, menoleh kaget, matanya membulat melihat Arun berdiri di bawah sana, napasnya masih memburu, kamera saku itu digenggam erat di tangannya.
“Run…” Aruna bergegas turun, tak peduli tatapan penumpang lain.
Arun berdiri di depannya, masih terengah, tapi matanya menatap lurus, sungguh-sungguh. “Aruna, maaf soal semalam. Saya… saya cuma takut, minder. Tapi setelah lihat ini—” ia mengangkat kamera itu tinggi-tinggi, “—saya sadar, saya nggak boleh sebodoh itu ngelepasin orang yang udah simpen banyak kenangan tentang saya.”
Aruna tersenyum, matanya berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena sedih.
“Tolong,” lanjut Arun, suaranya sedikit gemetar, “simpan satu slot memori lagi di kamera itu… buat foto kita berdua nanti, pas saya datang ke kotamu.”
Angin pagi berembus pelan, membawa aroma khas terminal desa—campuran solar, debu, dan sisa embun yang belum sepenuhnya menguap. Aruna mengangguk, tersenyum lebar, air matanya akhirnya menetes, tapi kali ini karena bahagia.
“Aku tunggu, Run. Jangan lama-lama.”
Bus itu akhirnya berangkat beberapa menit kemudian, membawa Aruna kembali ke kota. Dari balik jendela, ia melambai, tersenyum ke arah Arun yang berdiri di tengah debu terminal, kamera saku masih digenggamnya erat-erat, seperti janji yang tak akan ia lepaskan.
Dan di dalam hati keduanya, gemercik air hulu sungai itu terus mengalir—pelan, tenang, namun pasti akan bertemu lagi di muara yang sama.
—TAMAT—
