Ketukan di Balik Lemari Tua

Rafi menurunkan koper birunya di depan pintu kamar nomor tujuh, lalu menghela napas panjang. Kosan ini jauh dari kata bagus—cat temboknya mengelupas di sana-sini, lantai keramiknya retak di beberapa titik, dan bau lembap menguar dari lorong yang remang. Tapi harganya cocok dengan isi dompetnya yang menipis di semester lima ini. Lagipula, kata Bu War, si pemilik kos, kamar nomor tujuh baru saja kosong minggu lalu.

“Penghuni sebelumnya pindah kerja ke luar kota,” jelas Bu War singkat, sambil menyerahkan kunci. Matanya sekilas menghindar saat mengucapkan itu, tapi Rafi terlalu lelah untuk memperhatikan detail semacam itu.

Kamar itu sebenarnya cukup luas untuk ukuran kos-kosan mahasiswa. Ada ranjang besi dengan kasur tipis, meja belajar kayu yang sudah usang, dan satu lagi perabot yang langsung menarik perhatian Rafi begitu ia masuk: sebuah lemari kayu jati tua yang berdiri kokoh di sudut ruangan, jauh lebih besar dan lebih tua dari perabot lain di kamar itu. Ukirannya rumit, khas gaya lama, dengan dua pintu yang menyatu rapat dan gagang kuningan yang sudah menghitam dimakan usia.

Rafi mencoba membuka lemari itu, sekadar untuk menyimpan pakaiannya. Namun gagangnya tak bergerak sama sekali, seperti terkunci dari dalam.

“Bu, lemarinya kok nggak bisa dibuka?” tanyanya saat Bu War lewat di depan kamar membawa ember pel.

“Oh, itu. Kuncinya udah hilang dari dulu, Nak. Sejak kos ini masih punya suami saya, almarhum,” jawab Bu War sambil terus berjalan, seolah enggan berlama-lama membahas topik itu. “Nggak usah dipaksa dibuka. Toh masih ada lemari plastik kosong di gudang, biar Ibu ambilkan buat kamu.”

Rafi mengangguk saja, meski rasa penasaran sempat menggelitik. Ah, paling isinya cuma rayap dan debu, pikirnya. Malam itu ia sibuk merapikan barang, memasang seprai baru, dan menempel beberapa poster band favoritnya di dinding. Selepas isya, ia langsung tepar di kasur, kelelahan setelah seharian pindahan.


Rafi terbangun mendadak. Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap, jantungnya berdebar tanpa sebab yang jelas. Ia meraba ponsel di sebelah bantal. Pukul 02.00 dini hari, angka itu menyala terang di layar.

Lalu ia mendengarnya.

Tok… tok-tok… tok…

Suara ketukan, pelan tapi jelas, berasal dari arah lemari tua di sudut kamar. Iramanya aneh—tidak seperti suara kayu yang mengembang karena udara dingin, atau tikus yang menggerogoti kayu lapuk. Ketukan itu punya pola, seolah seseorang sedang mengetuk dengan sengaja dari dalam.

Tok… tok-tok… tok… tok-tok-tok.

Rafi duduk tegak, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia menatap lemari itu dalam gelap. Bentuknya hanya siluet hitam pekat, tapi rasanya seperti sedang menatap balik ke arahnya.

“Halo?” bisiknya, entah pada siapa.

Suara ketukan berhenti seketika, seolah mendengar suaranya.

Rafi menahan napas selama beberapa menit, menunggu apakah suara itu akan berlanjut. Tapi kamar kembali sunyi, hanya suara jangkrik dari luar jendela dan deru kipas angin butut di sudut ruangan. Ia meyakinkan dirinya itu hanya mimpi, atau efek dari kelelahan pindahan. Ia menarik selimut sampai dagu dan memaksa diri tidur kembali.

Esok paginya, ia nyaris lupa soal kejadian semalam—sampai malam berikutnya suara itu datang lagi. Persis pukul dua. Persis dengan irama yang sama.


Selama seminggu, pola itu terus berulang. Setiap pukul dua dini hari, ketukan berirama itu akan terdengar dari dalam lemari, berlangsung sekitar tiga sampai lima menit, lalu berhenti seolah tak pernah terjadi apa-apa. Rafi mulai kehilangan jam tidurnya. Wajahnya pucat, mata cekung menghiasi bawah kelopaknya. Di kelas, ia lebih sering menguap daripada mencatat.

“Lo kenapa sih, Fi? Kayak zombie,” tanya Tomi, teman sekelasnya, saat mereka duduk di kantin kampus.

Rafi menceritakan semuanya—lemari tua, kunci yang hilang, dan suara ketukan misterius setiap jam dua malam. Tomi, yang sejak SMA doyan nonton video-video mistis, mendengarkan dengan mata berbinar penuh antusias, alih-alih rasa takut.

“Wih, serem tapi seru juga tuh! Coba lo rekam pas kejadian,” usul Tomi.

“Udah, gue coba rekam pake HP. Tapi anehnya, di rekaman suaranya nggak kedengeran sama sekali. Cuma keheningan doang,” jawab Rafi, mengingat betapa ia sudah tiga kali mencoba merekam dengan aplikasi perekam suara, dan hasilnya selalu nihil—hanya suara kipas angin dan detak jam dinding yang tertangkap.

“Nah, itu dia. Makin serem,” Tomi malah tertawa kecil. “Coba lo bongkar aja lemarinya. Siapa tau ada yang ketinggalan di dalem. Mungkin ada… mayat kucing kering, atau boneka nenek lampir gitu,” candanya, meski Rafi tak menemukan itu lucu sama sekali.

Malam itu, sepulang kuliah, Rafi memandangi lemari tua itu lama sekali. Rasa penasaran dan takut bercampur aduk dalam benaknya. Kalau memang ada sesuatu di dalam sana yang menyebabkan suara ketukan itu, mungkin dengan membukanya, misteri ini akan selesai. Ia bisa memindahkan barang apa pun yang ada di dalam, membuang atau menyingkirkannya, dan akhirnya bisa tidur nyenyak lagi.

Ia berjalan ke warung dekat kos, membeli linggis kecil dan obeng besar dari toko bangunan yang masih buka. Pemilik toko, seorang bapak tua, sempat bertanya untuk apa barang-barang itu.

“Mau bongkar lemari tua, Pak,” jawab Rafi singkat.

Bapak itu menatapnya sesaat, ekspresinya berubah agak aneh, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi mengurungkan niat. “Ya udah, hati-hati aja, Dek,” katanya sambil membungkus belanjaan Rafi.


Malam itu, sekitar pukul sepuluh, Rafi mulai bekerja. Ia menyelipkan ujung obeng ke celah antara dua pintu lemari, mencoba mencungkil kuncinya yang berkarat. Prosesnya tidak mudah—kayu jati itu keras dan kokoh meski sudah dimakan usia. Butuh hampir satu jam penuh, dengan keringat membasahi kaosnya, sebelum akhirnya terdengar bunyi krek keras, disusul suara logam yang patah.

Pintu lemari terbuka dengan derit panjang yang menggema di kamar sempit itu.

Rafi menyorotkan senter ponselnya ke dalam.

Kosong.

Benar-benar kosong. Tidak ada baju usang, tidak ada boneka, tidak ada apa pun selain debu tebal yang melapisi dasar lemari dan sarang laba-laba di sudut-sudutnya. Bahkan tak ada bau apek yang biasa menyertai perabot lama yang lama tertutup. Hanya kehampaan yang entah kenapa terasa lebih mengganggu daripada jika ia menemukan sesuatu yang mengerikan di dalamnya.

Rafi berdiri mematung beberapa saat, antara lega dan bingung. Ia meraba dinding dalam lemari, mengetuk-ngetuknya, mencari kemungkinan ruang rahasia atau panel tersembunyi seperti di film-film yang pernah ia tonton. Tapi tidak ada apa-apa. Hanya kayu solid biasa.

“Yah, cuma lemari kosong,” gumamnya, antara lega dan sedikit kecewa karena rasa penasarannya tak terjawab.

Ia menutup pintu lemari—meski kini engselnya agak longgar akibat congkelan tadi—dan merebahkan diri di kasur, merasa sedikit lebih tenang. Mungkin malam ini ketukan itu tidak akan datang lagi, pikirnya. Toh lemarinya sudah terbuka, tak ada lagi misteri yang tersembunyi di baliknya.

Ia tertidur lebih cepat dari biasanya, tubuhnya lelah setelah perjuangan membongkar kunci yang keras kepala itu.


Rafi terbangun dengan sentakan.

Ponselnya menunjukkan pukul 02.00 tepat.

Untuk sesaat, ia menahan napas, menunggu dengan waspada, matanya menatap ke arah lemari yang kini pintunya sedikit terbuka menganga, memperlihatkan kegelapan kosong di dalamnya. Tidak ada suara. Ia mulai berpikir mungkin memang benar, misteri itu telah usai bersamaan dengan terbukanya lemari.

Namun tepat saat pikiran itu melintas, ia mendengarnya.

Tok… tok-tok… tok…

Bukan dari lemari.

Suara itu berasal dari bawah ranjangnya sendiri.

Bulu kuduk Rafi berdiri seketika. Ia merasakan getaran halus merambat dari bawah kasur, seolah sesuatu di bawah sana sedang mengetuk rangka besi ranjang dengan ritme yang sama persis seperti yang selama ini terdengar dari lemari.

Tok… tok-tok… tok… tok-tok-tok.

Rafi tak berani bergerak. Tubuhnya kaku, seluruh ototnya menegang, hanya matanya yang bergerak liar menatap ke segala arah kamar dalam kegelapan. Keringat dingin membasahi keningnya. Ia tahu, seharusnya ia mengambil ponsel dan menyalakan senter, atau berteriak memanggil penghuni kos lain. Tapi kakinya seperti terpaku, tak sanggup digerakkan barang sesenti pun.

Ketukan itu berlanjut selama beberapa menit—lebih lama dari biasanya, seolah menandakan sesuatu yang berubah, sesuatu yang kini lebih dekat dengannya dibanding sebelumnya. Setelah itu, hening kembali menyelimuti kamar.

Rafi tidak tidur lagi malam itu. Ia duduk bersandar di dinding, memeluk lututnya, menunggu fajar dengan mata terbuka lebar, terlalu takut untuk sekadar mengintip ke bawah ranjang.


Pagi harinya, Rafi langsung menemui Bu War di ruang depan kos.

“Bu, saya mau tanya,” katanya, suaranya masih agak gemetar. “Lemari di kamar saya itu… sebenarnya ada apa? Kenapa dulu dikunci?”

Bu War yang sedang menyapu teras menghentikan gerakannya. Ia menatap Rafi lama, seperti menimbang-nimbang apakah harus jujur atau tidak. Akhirnya ia meletakkan sapunya dan duduk di kursi kayu dekat pintu.

“Duduk dulu, Nak,” katanya pelan.

Rafi duduk di kursi seberangnya, menunggu dengan tegang.

“Lemari itu peninggalan suami saya. Dulu, sebelum jadi kos-kosan, rumah ini rumah keluarga kami,” mulai Bu War, suaranya berat. “Anak kami, Danu, meninggal di kamar itu. Kecelakaan waktu masih kecil, umur delapan tahun. Dia suka main sembunyi di dalam lemari itu waktu main petak umpet sama kakaknya. Suatu hari dia sembunyi lagi di situ, tapi… kuncinya kejepit, terkunci dari luar tanpa sengaja. Nggak ada yang tahu dia di dalam. Butuh waktu lama sebelum akhirnya ditemukan.”

Rafi merasa perutnya mulas mendengar cerita itu. “Terus, Bu?”

“Sejak itu, suami saya nggak pernah mau lemari itu dibuka lagi. Katanya dia sering denger suara ketukan dari dalam, tengah malam. Katanya itu Danu, yang dulu mengetuk-ngetuk pintu lemari minta tolong dikeluarkan, tapi nggak ada yang dengar sampai terlambat. Suami saya bilang, roh Danu masih terus mengetuk, seolah masih berharap kali ini ada yang dengar dan nolongin dia.” Bu War menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca. “Makanya lemari itu nggak boleh dibuka. Biar dia… biar dia tenang di situ aja. Kalau dibuka, katanya dia bakal keluar cari-cari lagi. Nyari orang yang bisa nolongin dia keluar—kayak dulu dia pengen keluar tapi kesiangan.”

Rafi merasakan darahnya membeku. “Saya… saya udah buka lemarinya semalam, Bu.”

Wajah Bu War langsung pucat pasi. “Nak… kenapa nggak bilang dulu sama Ibu?!”

“Saya nggak tahu, Bu! Saya kira cuma lemari biasa yang kuncinya ilang aja!” Rafi nyaris berteriak, panik mulai menguasainya. “Terus semalam, jam dua, ketukannya… pindah, Bu. Sekarang dari bawah ranjang saya.”

Bu War terdiam lama, wajahnya menyiratkan ketakutan yang sama besarnya dengan Rafi. “Itu artinya… dia udah keluar dari lemari, Nak. Dia sekarang nyariin tempat lain buat nunggu. Nyariin orang yang mau nolongin dia.”

“Terus saya harus gimana, Bu?” suara Rafi bergetar hebat.

Bu War menggenggam tangan Rafi, matanya menatap serius. “Dengerin Ibu baik-baik. Kalau malam ini ketukan itu datang lagi, jangan diam aja. Danu itu anak kecil, Nak, dia cuma pengen didengar, pengen ada yang jawab dia, kayak dulu waktu dia terjebak dan nggak ada yang denger teriakannya. Coba kamu ketuk balik, tiga kali, terus bilang kamu dengar dia. Bilang dia boleh tenang, nggak perlu nunggu lagi.”


Malam itu Rafi tak bisa memejamkan mata sama sekali. Ia duduk di kasur, menyalakan lampu tidur kecil, menunggu jam menunjukkan pukul dua dengan jantung berdebar kencang. Setiap detik terasa seperti satu jam penuh.

Tepat pukul 02.00, suara itu kembali terdengar dari bawah ranjangnya.

Tok… tok-tok… tok…

Rafi memejamkan mata sejenak, mengumpulkan seluruh keberaniannya yang tersisa. Lalu, dengan tangan gemetar, ia mengetuk rangka besi ranjang tiga kali, pelan tapi mantap.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan dari bawah ranjang seketika berhenti.

Hening total menyelimuti kamar. Bahkan suara jangkrik dari luar jendela seolah ikut membisu.

“Danu,” bisik Rafi, suaranya bergetar tapi ia paksakan untuk terus bicara, seperti pesan Bu War. “Kamu udah nggak sendirian lagi. Aku dengar kamu. Kamu boleh istirahat sekarang. Nggak usah nunggu lagi.”

Ia menunggu, napas tertahan, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Beberapa detik berlalu dalam kesunyian mencekam, sebelum tiba-tiba udara di kamar terasa berubah—dingin yang tadinya mencekam perlahan mereda, digantikan hawa yang lebih ringan, hampir terasa hangat.

Lalu, satu ketukan terakhir terdengar dari bawah ranjang. Kali ini pelan, hampir seperti lirih, sebelum benar-benar hilang ditelan sunyi.

Rafi tidak tahu pasti apa yang terjadi malam itu. Tapi sejak saat itu, ketukan misterius jam dua dini hari tidak pernah terdengar lagi.


Keesokan paginya, Rafi menemui Bu War dan menceritakan semuanya. Perempuan tua itu menangis pelan, campuran antara sedih dan lega yang telah lama ia pendam bertahun-tahun.

“Terima kasih, Nak,” katanya sambil mengusap air mata. “Akhirnya dia bisa istirahat.”

Beberapa hari kemudian, Bu War meminta tukang untuk memperbaiki lemari tua itu—memperbaiki engsel yang longgar, mengganti kunci yang rusak, memoles ulang kayunya yang using hingga mengilap. Bukan untuk dikunci lagi, katanya, tapi supaya lemari itu bisa dipakai sebagaimana mestinya, sebagai tempat menyimpan pakaian, bukan lagi sebagai penjara sunyi bagi jiwa kecil yang kesepian.

Rafi tetap tinggal di kamar nomor tujuh sampai lulus kuliah dua tahun kemudian. Tak pernah lagi ia mendengar ketukan aneh di tengah malam. Namun setiap kali jam menunjukkan pukul dua dini hari, entah kenapa, ia selalu terbangun sejenak—bukan karena takut, melainkan seperti sebuah kebiasaan yang tertinggal, sebuah ingatan yang enggan sepenuhnya pergi.

Dan setiap kali itu terjadi, ia akan tersenyum tipis dalam gelap, membisikkan kalimat yang sama seperti malam itu.

“Selamat istirahat, Danu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *