Doni memelototi jam di pergelangan tangannya sambil menggerutu dalam hati. Pukul setengah sepuluh pagi, dan undangan lamaran Bimo—sahabatnya sejak SMP—dimulai jam sepuluh tepat. Ia sudah berjanji akan datang lebih awal untuk bantu-bantu, tapi macet di perempatan dekat gedung serbaguna Graha Kencana benar-benar di luar perkiraan. Motor matic-nya terjebak di antara angkot ngetem dan truk pasir yang entah kenapa memilih parkir sembarangan tepat di jalur yang seharusnya lancar.
“Sialan, telat gue,” gumamnya sambil menggeber gas begitu jalanan mulai terurai.
Ia memarkir motor asal-asalan di area parkir yang penuh sesak, lalu setengah berlari menuju gedung. Baju batik lengan panjang warna cokelat-emas dengan motif parang yang ia kenakan sudah mulai lepek karena keringat—maklum, jarak dari tempat parkir ke pintu gedung lumayan jauh, dan matahari pagi itu seakan sengaja membakar ubun-ubunnya.
Baru saja ia sampai di lobi, perutnya mulai berontak. Sejak tadi malam ia memang sudah merasa perutnya agak melilit—kombinasi maut dari sambal terasi dan es teh manis yang diminum berturut-turut di warung dekat kosan. Dan sekarang, di momen yang paling tidak tepat, rasa mulas itu datang menyerang dengan ganas.
“Aduh, jangan sekarang, please,” rintihnya pelan sambil mengelus perut yang rasanya seperti diaduk-aduk.
Ia celingukan mencari papan penunjuk toilet. Gedung Graha Kencana itu cukup besar, dengan tiga ballroom berbeda di lantai yang sama—Ballroom Melati, Ballroom Anggrek, dan Ballroom Mawar—yang masing-masing sedang menggelar acara berbeda hari itu. Doni ingat samar-samar undangan Bimo menyebut Ballroom Anggrek, tapi otaknya saat itu sudah terlalu sibuk memikirkan cara menahan desakan di perutnya untuk benar-benar memperhatikan detail semacam itu.
Ia melihat pintu bertuliskan “Toilet” di ujung lorong, tapi antrean di depannya mengular panjang—rupanya toilet umum gedung itu sedang dalam perbaikan sebagian, hanya menyisakan dua bilik yang berfungsi. Panik dan mulai berkeringat dingin, Doni celingukan lagi. Matanya menangkap sebuah pintu lain yang sedikit terbuka di sisi lorong sepi, tampak seperti toilet khusus VIP yang tersambung dengan salah satu ballroom.
Tanpa pikir panjang, demi menyelamatkan harga dirinya yang sudah di ujung tanduk, ia menyelonong masuk.
Namun, yang ia temui di dalam bukan deretan kloset, melainkan ruangan tunggu kecil yang berhias kain-kain satin emas dan bunga-bunga segar tersusun rapi. Sebelum Doni sempat mencerna situasi—atau berbalik mencari pintu toilet yang asli—dua orang perempuan berkebaya seragam panitia langsung menyerbunya dengan wajah lega bercampur panik.
“Astaga, akhirnya dateng juga! Kita udah deg-degan dari tadi, kirain calon mantunya Om bro gagal landing!” seru salah satu dari mereka sambil menarik lengan Doni.
“Eh, tunggu, Mbak, saya—” Doni mencoba protes, tapi suaranya tenggelam oleh kepanikan dua perempuan itu. Dengan cekatan, mereka langsung merapikan kerah batiknya dan menyisir poninya yang berantakan dengan jari-jari mereka sendiri.
“Bapak Ibu udah nunggu dari tadi di dalam, buruan masuk! Untung batiknya sama persis kayak kain dresscode yang dikirim via paket kemarin, jadi nggak perlu ganti baju lagi!” kata perempuan satunya sambil menunjuk batik cokelat-emas motif parang yang dikenakan Doni.
Doni baru sadar, batik motif parang cokelat-emas yang kebetulan ia pinjam dari lemari kakaknya pagi tadi ternyata kembar identik dengan kode pakaian keluarga pria. Acara ini ternyata adalah agenda “Pertemuan Keluarga Besar Pranikah”. Fajar, sang calon pria, selama ini tinggal di luar negeri sejak kecil karena ikut orang tuanya dan dijodohkan dengan Kirana lewat perantara kakek mereka. Ini adalah hari pertama Fajar menginjakkan kaki di Indonesia dan hari pertama keluarga besar Kirana akan melihat wajahnya secara langsung. Sialnya bagi Doni, koordinasi pakaian hanya bermodal foto kain di WhatsApp.
“Anu, Mbak, saya sebenernya cuma mau ke toilet—” Doni mencoba menjelaskan sambil menahan langkah. Setengah tenaganya habis dipakai untuk menahan mulas, membuat tubuhnya lemas dan pasrah saja saat diseret menuju pintu di ujung ruangan. Kata-katanya seolah menguap begitu saja di tengah kesibukan dua perempuan yang sibuk membisikkan instruksi itu.
“Nanti pas tirai dibuka, Mas Fajar langsung jalan ke kursi depan ya, di sebelah Kirana. Jangan lupa senyum, soalnya kakek-nenek udah gak sabar liat wajah aslinya,” kata perempuan pertama sambil mendorong punggung Doni.
Sebelum Doni sempat berteriak minta dilepaskan, tubuhnya sudah didorong melewati pintu tirai kain emas, langsung menuju kursi empuk berukir yang berada persis di barisan paling depan sebuah ballroom yang megah. Ruangan itu dipenuhi puluhan anggota keluarga besar yang langsung mengarahkan pandangan penuh antusias ke arahnya.
Dan di sanalah Doni, mematung dengan wajah bingung bercampur panik, duduk di kursi utama sebagai “calon mantu misterius” dalam acara makan malam keluarga besar yang sama sekali tidak ia kenal. Keringat dinginnya mengucur makin deras—bukan cuma karena panggung yang disorot lampu, tapi karena perutnya kembali melilit hebat.
“Astaga, itu dia si Fajar! Badannya tegap ya, pantesan lama di Jerman,” bisik seorang tante di barisan kedua kepada saudaranya, cukup keras hingga terdengar oleh Doni yang duduk kaku bagai patung.
Doni menoleh ke kanan dengan gugup. Di sebelahnya, seorang perempuan berkebaya merah muda dengan riasan anggun duduk sambil menunduk malu-malu. Namun saat perempuan itu memberanikan diri melirik ke arah Doni, matanya langsung melebar. Tatapannya berubah campur aduk antara bingung, gugup, dan penasaran.
“Kok… beda ya, dari foto profil WhatsApp-nya,” bisik perempuan itu pelan, lebih kepada dirinya sendiri, tapi terdengar jelas oleh Doni. Kirana sendiri memang hanya pernah melihat Fajar lewat foto profil beresolusi rendah yang dipasang pria itu tiga tahun lalu.
Doni membeku, bibirnya kelu. Otaknya berputar cepat mencari celah untuk kabur dan menuntaskan hajatnya, tapi di depan mereka, seorang perwakilan keluarga yang sepuh sudah berdiri memegang mikrofon, memulai sambutan dengan suara berwibawa.
“Bapak, Ibu, eyang, dan seluruh keluarga besar, mari kita sambut dengan hangat kehadiran cucu menantu kita—” pembawa acara itu melirik catatan di tangan, “—Ananda Fajar yang akhirnya pulang ke tanah air untuk menemui calon istrinya, Kirana!”
Tepuk tangan riuh membahana. Doni merasa jantungnya berdegup seirama dengan denyut di perutnya yang makin melilit. Kombinasi panik dan mulas yang benar-benar menyiksa. Ia melirik ke belakang, berharap bisa menyelinap, tapi barisan kursi keluarga sudah terlalu rapat, dan dua panitia berkebaya tadi berdiri tegak di dekat pintu keluar seperti penjaga keamanan.
“Pak, mohon maaf sebelumnya,” bisik Doni akhirnya, memberanikan diri menoleh ke bapak berjas di sebelah kirinya—yang ia tebak adalah calon mertua dadakannya. “Saya sebenarnya… saya kayaknya salah—”
“Salah apa, Le? Grogi ya ketemu keluarga besar Kirana? Wajar, bapakmu dulu waktu pertama ketemu keluarga Ibu juga gemeteran,” tanya bapak itu sambil tersenyum sangat ramah. Mata bapak tua itu menyipit, berusaha memfokuskan pandangan karena kacamata bacanya tertinggal di mobil, tapi senyumnya tetap merekah hangat menyambut orang yang dia kira “anak sahabat lamanya”.
Doni menelan ludah. Kata-kata “Saya nyasar mau ke toilet” langsung tersangkut di tenggorokannya. Ia tidak tega menghancurkan harapan besar keluarga besar ini di depan puluhan pasang mata eyang-eyang yang menatap penuh haru.
“Salah… nggak apa-apa, Pak. Cuma agak pusing efek jetlag,” jawab Doni asal ceplos, mencoba menyesuaikan alur cerita.
Acara berlanjut ke sesi perkenalan inti, di mana panitia membawakan mikrofon khusus agar “Fajar” bisa memberikan sepatah kata sambutan untuk keluarga besar Kirana. Mikrofon perak itu disodorkan ke hadapan Doni.
Doni menatap mikrofon itu dengan pikiran kalut. Ini sudah kelewat jauh. Di sebelahnya, Kirana menatap Doni dengan tatapan penuh selidik yang makin tajam.
“Mas… sampeyan beneran Mas Fajar anaknya Om Hermawan kan?” bisik Kirana pelan, suaranya mulai bergetar panik.
Pertanyaan spesifik itu membuat pertahanan Doni runtuh. “Bukan, Mbak. Saya—”
Tepat sebelum Doni menyelesaikan kalimatnya, sebuah keributan besar pecah di pintu masuk ballroom. Seorang pemuda dengan baju batik yang sama persis dengan Doni berlari terengah-engah masuk ke ruangan dibuntuti oleh sepasang paruh baya yang tampak panik. Wajah pemuda itu basah oleh keringat, membawa koper kecil, dan rambutnya berantakan.
“Maaf! Maaf semuanya, Fajar telat! Tadi pas keluar tol bandara macet total, ditambah mobil travelnya sempat mogok di jalan!” teriak pemuda itu sambil memegangi lututnya, napasnya memburu.
Seluruh ruangan mendadak hening seketika. Semua mata—termasuk Doni, Kirana, dan sang bapak berjas—beralih ke pemuda yang baru datang itu.
“Lah… itu Hermawan sama anaknya kan? Jadi yang di depan itu siapa?” celetuk salah satu sesepuh keluarga dari barisan depan.
Bapak di sebelah Doni langsung berdiri, meraba sakunya, dan buru-buru memakai kacamata baca cadangan yang diambil dari istrinya. Begitu fokus matanya jelas, tangannya gemetar menunjuk bergantian antara Doni di depan dan pemuda di pintu. “Lah… terus… yang duduk di sebelah anakku dari tadi ini SIAPA?!”
Suasana ballroom yang tadinya formal penuh haru seketika pecah menjadi kekacauan penuh tawa dan kebingungan. Dua panitia berkebaya yang menyeret Doni tadi langsung menutup mulut dengan wajah merah padam, menyadari kecerobohan fatal mereka yang asal tarik orang di lobi toilet.
Doni, yang sudah tidak bisa lagi menahan beban malu sekaligus beban di perutnya, langsung berdiri.
“Saya Doni, Pak, Bu, Eyang. Maaf seribu maaf, saya sebenarnya tamu dari acara lamaran sebelah di Ballroom Melati. Saya cuma numpang nyari toilet karena toilet umum penuh. Pas keluar pintu samping, saya langsung ditarik sama Mbak-Mbak panitia karena baju batik saya kebetulan sama persis,” jelas Doni pasrah dengan suara lantang, jujur tanpa ada yang ditutupi lagi.
Mendengar pengakuan jujur yang kelewat absurd itu, seluruh ruangan meledak dalam gelak tawa yang lebih riuh. Kirana bahkan sampai ikut tertawa geli hingga air matanya merusak sedikit riasan di pipinya.
“Pantesan dari tadi Mas ini mukanya tegang banget kayak mau pingsan,” celetuk Kirana di sela tawanya. “Saya kira efek jetlag-nya parah banget.”
Fajar yang asli, bersama orang tuanya yang baru maju, ikut terkekeh geli setelah mendapat penjelasan singkat dari panitia. Fajar melangkah maju dan menepuk pundak Doni dengan ramah. “Wah, makasih ya, Mas Doni, udah gantiin saya nerima ketegangan di depan keluarga besar. Untung belum masuk sesi serah-serahan!” candanya, yang langsung disambut tawa masal seisi gedung.
Setelah situasi mereda, Doni akhirnya diberikan “jalur evakuasi” tercepat menuju toilet VIP yang sebenarnya oleh panitia yang terus-menerus meminta maaf sambil menahan tawa.
Beberapa menit kemudian, Doni keluar dari toilet dengan perasaan yang luar biasa lega. Jiwa dan raganya rasanya baru saja kembali ke bumi. Saat ia kembali ke lorong, ia baru teringat tujuan utamanya ke gedung ini.
“Astaga! Bimo!” pekiknya kaget.
Ia buru-buru meraih ponsel. Benar saja, layarnya dipenuhi belasan panggilan tak terjawab dan rentetan pesan penuh capslock dari Bimo.
Bro, lo dimana? Udah mulai nih acaranya! Doni woy, katanya lo udah nyampe gedung, kok nggak keliatan? BANGKE lo kemana sih?! Ini calon mertua gue udah nanyain temen deket gue kok nggak ada satupun yang dateng!
Doni menepuk jidatnya keras-keras. Setelah dicek kembali, acara lamaran Bimo yang asli memang berlangsung di Ballroom Melati—yang letaknya hanya berjarak tiga puluh meter di sebelah ballroom tempat ia hampir diadopsi jadi cucu menantu orang lain tadi.
Dengan langkah seribu, Doni berlari menuju Ballroom Melati. Begitu masuk, ia langsung disambut tatapan galak Bimo yang sudah menunggunya di depan pintu.
“Woy! Dari mana aja lo? Acara udah mau selesai nih, lo baru keliatan hidungnya!” omel Bimo kesal.
“Bro… lo nggak bakal percaya kalau gue ceritain kenapa gue bisa telat,” jawab Doni sambil terengah-engah, memandangi batiknya yang kini makin lepek, namun membawa cerita paling absurd dalam hidupnya.
